Pilihlah Tradisi yang Tepat
Oleh: Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.
Setiap hari, kita tanpa sadar sedang menulis sejarah hidup kita masing-masing.
Kita tidak menulis sejarah tersebut dengan tinta, melainkan dengan kebiasaan dan tradisi yang kita mulai, kita teruskan, atau kita wariskan kepada generasi mendatang.
Terdapat sebuah Hikmatul Yaum: “Membuat tradisi baik mengantarkan kepada amal jariyah, sedangkan membuat tradisi buruk mengantarkan kepada dosa jariyah.”
Kalimat bijak tersebut bukan sekadar nasihat biasa, melainkan sebuah alarm pengingat bagi hati kita semua.
Hal ini dikarenakan saat manusia sudah berada di alam kubur, seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga perkara.
Ketiga perkara tersebut adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak saleh yang senantiasa mendoakannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Perhatikanlah bahwa tradisi baik yang kita mulai hari ini dapat menjadi sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang pahalanya terus mengalir tanpa henti.
Upaya mendirikan kajian rutin di masjid, membiasakan sedekah subuh, hingga mengajarkan adab kepada anak merupakan benih amal yang tidak akan pernah mati.
Sebaliknya, tradisi buruk yang kita tanamkan juga tidak akan mati begitu saja setelah kita tiada.
Kebiasaan melakukan ghibah di grup WhatsApp keluarga, menunda shalat berjamaah, atau membiarkan anak-anak tumbuh tanpa didikan agama akan menjadi dosa yang terus berjalan.
Meskipun kita sudah tiada, catatan dosa tersebut masih akan terus bertambah mengikuti dampak dari tradisi buruk yang ditinggalkan.
Maka, sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri mengenai tradisi apa yang sedang kita tanam untuk dipanen di akhirat nanti.
Janganlah menunggu waktu nanti, tetapi mulailah dari diri sendiri, dari lingkungan keluarga, serta dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Satu tradisi baik yang kita tanamkan hari ini memiliki potensi besar untuk menyelamatkan generasi masa depan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita agar mampu membangun tradisi kebaikan sehingga layak mendapatkan pahala jariyah dan terhindar dari dosa jariyah. Aamiin. []






