Pemikiran Hebat Hasan al Bana (1)
Ketika menjelaskan rukun yang pertama al fahmu, Hasan al Bana berkata, “Pemahaman yang saya maksud di sini tiada lain adalah Anda meyakini bahwa fikrah kami adalah Islam murni dan Anda memahami Islam sebagaimana kami memahami sesuai dengan dua puluh prinsip yang sangat ringkas”
Begitulah. Dengan rukun pemahaman ini kita dituntut untuk memahami Islam degan pemahaman yang benar dan lurus, sebagaimana pemahaman Ahlusunnah wal Jamaah dengan salafussaleh.
Imam Hasan al Bana lalu membuat dua puluh prinsip yang di dalamnya terkumpul semua perkara agama yang wajib dipahami oleh seorang Muslim dalam kerangka pemahaman yang tepat, tanpa menggampangkan satu perkara dan bersikap ekstrem dengan perkara yang lain.
Dua puluh prinsip pemahaman Islam menurut Ikhwanul Muslimin ini adalah:
- Islam adalah sistem komprehensif
- Al-Qur’an dan As Sunnah adalah rujukan
- Pemahaman seputar Ilham, Kasyf, Rukyah dan sejenisnya
- Tentang Tamimah, Ruqyah, Wad‘ dan sejenisnya
- Tentang Ijtihad
- Tentang Ishmah
- Tentang Ittiba‘
- Menyikapi Ikhtilaf
- Takalluf yang dilarang
- Makrifatullah
- Tentang bid’ah
- Tentang bid’ah idhafiyah, tarkiyah dan ibadah mutlak
- Tentang Wali dan karamah
- Tentang ziarah kubur
- Tentang doa dan tawasul
- Tentang kebiasaan yang salah
- Akidah adalah fondasi amal
- Islam membebaskan akal pikiran
- Antara Aqli dan Naqli
- Hukum mengkafirkan seorang Muslim
(Lihat “Syarah Arkanul Baiah Pilar Penopang Kejayaan Dakwah”, Majdi al Hilali dan Ali Abdul Halim Mahmud, halaman xi-xiv)
Tentang prinsip yang pertama ini, Imam Hasan al Bana berkata, ”Islam adalah sistem yang komprehensif, menyentuh seluruh fenomena kehidupan. Islam adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat. Islam adalah akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Islam adalah peradaban dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan pengadilan. Islam adalah materi dan kekayaan atau usaha dan kecukupan. Islam adalah jihad dan dakwah atau tentara dan fikrah. Islam adalah akidah yang benar dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.” (BERSAMBUNG) []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






