Sekjen Liga Universitas Islam Mesir: Tidak Ada Kebenaran yang Disembunyikan dalam Islam
Jakarta (Suaraislam.id)-Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), tantangan kebebasan pers, hingga tanggung jawab moral jurnalis menjadi sejumlah isu yang disoroti Sekretaris Jenderal Liga Universitas Islam Mesir Profesor Sami Muhammad al-Sharif dalam dialog bersama para wartawan di AQL Islamic Center di Tebet, Ahad siang 14/06/2026).
Dalam paparannya, dosen Ilmu Media Universitas Kairo itu menegaskan, Islam pada dasarnya merupakan agama yang jelas dan tidak menyimpan kebenaran dalam ruang-ruang rahasia. Yang diperlukan adalah pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah agar ajaran Islam dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat.
“Dalam Islam dan syariat Islam tidak ada perkara yang samar atau tersembunyi. Semua perkara pada dasarnya jelas, tetapi memerlukan pemahaman yang benar terhadap ajaran Allah dan ajaran Rasulullah ï·º sehingga dapat diterapkan sesuai dengan setiap zaman dan setiap tempat,” ujarnya.
Menurutnya, setiap Muslim memikul tanggung jawab atas ilmu yang dipelajari dan setiap perkataan yang diucapkan. Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara maupun menyampaikan informasi menjadi prinsip yang sangat penting.
“Engkau bertanggung jawab atas apa yang engkau pelajari dan bertanggung jawab atas apa yang engkau ucapkan. Rasulullah ï·º bersabda bahwa yang menyebabkan manusia tersungkur ke dalam neraka pada hari kiamat adalah hasil dari ucapan mereka,” katanya.
AI Hanya Mengolah Informasi
Menanggapi maraknya penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Sami mengingatkan bahwa teknologi tersebut bukan sumber kebenaran mutlak. Menurutnya, AI bekerja dengan memanfaatkan data dan informasi yang sebelumnya telah dimasukkan oleh manusia.
Ia mengilustrasikan fenomena tersebut dengan kisah seorang suami yang membuat puisi untuk istrinya menggunakan aplikasi AI, lalu menyajikannya seolah-olah lahir dari perasaannya sendiri.
“Perkembangan aplikasi seperti GPT dan yang sejenisnya bekerja berdasarkan informasi yang kita ambil dari sana. Kita harus menyadari bahwa tempat itu juga berisi informasi yang dimasukkan oleh manusia lain,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta tetap kritis terhadap informasi yang dihasilkan teknologi dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber rujukan.
Media Tidak Pernah Sepenuhnya Bebas
Sebagai akademisi yang mengajar ilmu media, Prof. Sami juga menyoroti realitas dunia pers modern. Menurutnya, tidak ada media yang sepenuhnya bebas, sepenuhnya objektif, maupun sepenuhnya netral.
“Sampai hari ini tidak ada media yang benar-benar bebas di dunia, tidak ada media yang sepenuhnya jujur di dunia, dan tidak ada media yang sepenuhnya objektif di dunia,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa media pada umumnya dipengaruhi oleh kepentingan pihak yang membiayainya. Namun demikian, hal tersebut tidak berarti kebebasan pers harus dihapuskan.
Sebaliknya, kebebasan harus dijalankan secara bertanggung jawab. Presiden Donald Trump sendiri tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada wartawan untuk bertanya.






