Pemikiran Hebat Hasan al Bana (3)
Ada sebuah kisah menarik saat Isa Asyur datang lebih awal ke kantor Ikhwanul Muslimin untuk salat Magrib. Imam Syahid sempat memintanya menjadi imam salat, namun Isa Asyur menolaknya karena rasa segan.
Al-Banna kemudian menegaskan agar ia tetap maju dengan sebuah kalimat perintah yang sangat singkat. “Shalatlah dengan perintah,” ujar al-Banna yang akhirnya membuat Isa Asyur tidak memiliki pilihan lain.
Setelah salat selesai, Isa Asyur kembali duduk di bagian paling belakang majelis untuk mencatat ceramah. Meski ia adalah satu-satunya orang yang mencatat, ia tidak pernah meminta tempat duduk yang spesial.
Isa Asyur merasakan sebuah paradoks unik karena ceramah al-Banna selalu terasa berakhir sangat cepat. Hal ini disebabkan gaya penyampaian di akhir ceramah justru jauh lebih memikat daripada bagian pembukanya.
Kelebihan tersebut dianggap sebagai karunia istimewa yang diberikan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya. “Saya tidak mengetahui apa rahasianya. Tetapi itu merupakan salah satu kelebihan beliau yang paling menonjol,” akunya.
Pada tahun 1945, kedua tokoh ini kembali bertemu saat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Isa Asyur hadir di sana sebagai pemimpin delegasi dari sebuah organisasi bernama Jum’iyah Syar’iyah.
Ia kembali mencatat ceramah-ceramah al-Banna yang disampaikan di penginapan Mesir di Makkah. Lokasi dakwah lainnya mencakup wilayah Mina, Madinah Munawarah, hingga ke lembaga Darul Hadits.
Delegasi yang hadir saat itu sangat beragam, mulai dari Indonesia, Jawa, Srilanka, hingga negara-negara Afrika. Al-Banna mampu berbincang akrab dengan setiap delegasi mengenai problematika spesifik yang mereka hadapi.
Kemampuan komunikasinya membuat para tamu merasa seolah al-Banna berasal dari negeri mereka sendiri. “Beliau menarik perhatian mereka, seakan-akan beliau datang dari negeri mereka, bukan mereka yang datang kepada beliau,” kata Isa Asyur.
Karakter unik inilah yang membuat Hasan al-Banna dianggap sebagai pemimpin yang berhasil mengubah arah sejarah. Namun, kisah hidupnya berakhir dengan suasana yang sangat mengharukan dan penuh kesunyian.
Saat wafat, tidak ada orang yang diperbolehkan menyalatkan jenazahnya di masjid kecuali ayah kandungnya sendiri. Para pengikutnya yang berjumlah sangat banyak tidak bisa mengantarkan keranda karena semuanya sedang berada di penjara.
Walaupun raganya telah tiada, pemikiran dan pengaruh al-Banna terus berkembang melalui generasi yang ia cetak. Ia merupakan sosok pertama yang menabur benih pergerakan Islam modern dengan metode yang sangat relevan.
Isa Asyur memberikan kesimpulan yang sangat kuat mengenai posisi sang Imam dalam sejarah dunia. “Sungguh Hasan al Bana adalah mujadid (pembaharu) Islam di abad dua puluh,” tutupnya.[]
Nuim Hidayat






