Pemikiran Hebat Hasan al Bana (3)
Syekh Ahmad Isa Asyur memberikan gambaran mendalam mengenai sosok Hasan al-Banna yang fenomenal. Ulama Mesir tersebut mengaku telah mendengar reputasi al-Banna bahkan sebelum dakwahnya berpindah dari Ismailia ke Kairo.
Isa Asyur menilai al-Banna sebagai seorang dai yang sulit dicari tandingannya dalam sejarah dakwah Islam. Ia merasakan betul adanya pengaruh positif yang sangat besar bagi perbaikan masyarakat pada masa itu.
Syekh Ahmad Isa Asyur pun mendoakan sosok yang ia sebut sebagai Imam Syahid tersebut agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau dan memasukkan beliau ke dalam surga-Nya yang luas bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shalih,” tuturnya.
Baca juga: Pemikiran Hebat Hasan al Bana (2)
Perkenalan mereka terjadi di Kairo saat Isa Asyur rutin menghadiri ceramah mingguan setiap hari Selasa. Pertemuan tersebut populer dengan nama Haditsus Tsulatsa, meski al-Banna lebih suka menyebutnya Atifatuts Tsulatsa.
Momentum hari Selasa di kantor Ikhwanul Muslimin selalu menjadi hari yang sangat dinantikan oleh banyak orang. Ribuan jemaah berkumpul dari berbagai penjuru, mulai dari Kairo, Iskandaria, Aswan, hingga luar Mesir.
Al-Banna biasanya naik ke mimbar dengan mengenakan jubah serta sorban putih yang menjadi ciri khasnya. Sebelum mulai bicara, ia akan mengitarkan pandangan ke seluruh hadirin dengan penuh wibawa.
Suaranya menggaung dengan kekuatan jiwa yang besar dan mampu menyihir hati para pendengar. Kekuatan ceramahnya tidak bertumpu pada retorika kosong atau teriakan yang sekadar membakar emosi sesaat.
Syekh Ahmad Isa Asyur menjelaskan bahwa dakwah tersebut sepenuhnya bertumpu pada nilai-nilai kebenaran. “Suara itu sepenuhnya bertumpu pada kebenaran, membangun semangat dengan meyakinkan akal, menggelorakan jiwa dengan makna bukan dengan kata-kata (bunga kata), dengan ketenangan bukan dengan provokasi, dan dengan hujah bukan dengan hasutan,” ungkapnya.
Setiap orang yang pernah mendengar ceramahnya sekali saja dipastikan akan ketagihan untuk datang kembali. Mereka akan selalu mengikuti kajian rutin tersebut tanpa memedulikan berbagai kesibukan atau hambatan yang ada.
Ketertarikan yang besar terhadap materi ceramah al-Banna mendorong Isa Asyur untuk menyadurnya ke majalah I’tisham. Menariknya, pada tahun 1940 tersebut masyarakat luas belum mengenal teknologi alat perekam suara.
Isa Asyur mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik maupun keahlian stenografi sama sekali. Ia merasa kemampuannya mencatat ceramah tersebut merupakan bentuk taufik dan ilham dari Allah Swt.
Proses pencatatan ini ia lakukan secara konsisten sepanjang hidup sang Imam hingga menjelang wafatnya. “Allah telah memberikan taufiq kepada saya untuk menyadurnya dengan metode yang jauh dari seni jurnalistik. Saya tidak mengerti dan tidak pernah mempelajari ‘stenografi’ dari seorangpun,” jelasnya.






