JEJAK SEJARAH

Pengaruh Peradaban Islam terhadap Peradaban Manusia

Wilayah Barat pada masa itu tidak memiliki kontribusi ilmiah apa pun yang bisa disumbangkan bagi zamannya. Sebaliknya, wilayah tersebut justru mengambil segala ilmu pengetahuan yang diketahuinya dari peradaban Timur.

Seluruh produk ilmu pengetahuan manusia akhirnya berkumpul di wilayah tengah bola bumi ini. Tidak ada satu pun cabang ilmu pengetahuan yang pernah ditemukan manusia melainkan telah dikuasai dan dikembangkan oleh masyarakatnya.

Seluruh intisari kebudayaan China, India, Mesir, Yunani, dan Romawi bersatu secara harmonis di bawah naungan satu negara yang berdaulat. Wilayah ini pun menjadi sangat layak disebut sebagai pusat intisari peradaban manusia secara universal.

Padahal sebelumnya, peradaban-peradaban tersebut terpecah-belah secara terisolasi pada masing-masing bangsa. Hubungan antarperadaban lama itu pun hanya terjadi sesekali dan dari kejauhan.

Melalui momentum ini, mutiara hikmah dari Yunani seolah bangkit kembali dari kuburnya. Para pemeluk Islam yang sejatinya asing bagi benua Eropa justru dengan sukarela memindahkan warisan filsafat tersebut melalui wilayah Andalusia dan Afrika Utara.

Ketika bangsa Eropa mendengar keberadaan filsafat Yunani, mereka langsung mengambilnya dari tangan kaum Muslimin di Barat. Proses transfer ilmu tersebut bahkan terjadi sebelum bangsa Eropa mampu mengenali satu kata pun dari bahasa asli maupun buku-buku Yunani.

Pengaruh pertama sekaligus terbesar dari peradaban Islam terhadap peradaban terdahulu adalah kemampuannya dalam menghimpun dan menyatukan mereka. Islam berhasil menyatukan seluruh warisan tersebut ke dalam satu amanah kemanusiaan yang utuh.

Setelah proses penghimpunan itu selesai, peradaban Islam menunaikan amanah besar ini dengan pencapaian yang paling sempurna. Islam tidak sekadar menjaga, melainkan menyempurnakan ilmu pengetahuan tersebut.

Sebenarnya, ada kemungkinan lain bahwa kekuatan besar di wilayah tengah tersebut dapat bertindak destruktif dengan menghancurkan sisa-sisa peradaban yang ada. Kekuatan tersebut bisa saja menyembunyikan masa lalu dari pandangan masa kini dan masa depan.

Jika skenario buruk itu terjadi, mereka hanya akan bertahan dalam waktu singkat lalu lenyap ditelan kegelapan malam yang pekat. Namun, watak peradaban Islam tidaklah demikian.

Peradaban Islam sama sekali tidak pernah menghancurkan tatanan peradaban yang sudah berdiri pada hari kemunculannya. Islam justru merekonstruksi kembali bangunan peradaban yang telah runtuh dan rusak, lalu menambahkan inovasi baru di atasnya.

Hasilnya, ilmu pengetahuan manusia dapat berjalan lurus di atas jalur yang benar tanpa hambatan dan tanpa perlu merintis ulang dari awal. Sejak abad keenam Masehi hingga abad ke-20, tidak ada satu pun penemuan baru di dunia melainkan diambil dari peradaban Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Peradaban Eropa pada abad ke-20 pada hakikatnya berakar kuat pada masa renaisans (Renaissance). Masa renaisans itu sendiri merujuk pada serapan kebudayaan kaum Muslimin di Andalusia serta interaksi kebudayaan yang dibawa oleh pasukan Salib dari negeri-negeri Islam.

Para penjelajah Eropa pun tidak akan pernah mampu menemukan Dunia Baru jika mereka tidak dipengaruhi oleh warisan khazanah peradaban Islam. Konstruksi keilmuan Islam menjadi kompas bagi penjelajahan mereka.

Peradaban Islam tidak pernah berinteraksi dengan suatu bangsa di Timur lalu meninggalkannya tanpa memberikan pengaruh baik pada adat dan akhlaknya. Hukum kesetaraan yang dibawa Islam menjadi pelajaran agung bagi sistem kasta yang mengakar di negeri India.

Masyarakat di India, Melayu, dan China sangat dipengaruhi oleh keluhuran budi para penjelajah serta pedagang Muslim. Mereka menjadikan kaum Muslimin sebagai teladan hidup yang dikagumi dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena kerelaan ini tidak pernah terjadi pada dakwah selain Islam. Hal tersebut tetap terbukti meskipun negara-negara Barat telah mengerahkan upaya besar melalui gerakan misionaris dan kolonialisme.

Pengaruh Islam terhadap jiwa orang-orang yang mengimaninya merupakan sebuah mukjizat sejarah yang tidak ada tandingannya. Islam berhasil menjaga kekuatan perlawanan umatnya dari gempuran negara-negara besar yang memerangi mereka dengan modal, sains, dan persenjataan lengkap.

Para peneliti pun dibuat heran dari mana datangnya kekuatan dahsyat kaum Muslimin tersebut. Kekuatan itu tetap menyala bahkan setelah kejayaan, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan mereka memudar.

Umat Islam tetap mampu melawan dengan gigih meskipun tidak memiliki senjata apa pun di hadapan penjajah yang dipersenjatai secara modern. Jiwa mereka merdeka di bawah naungan kalimat tauhid.

Sayangnya, para peneliti Barat tersebut sering kali enggan melihat sumber kekuatan sejati yang sebenarnya berada sangat dekat dengan mereka. Sumber kekuatan utama tersebut tidak lain adalah akidah Islam yang kokoh.

Rahasia keagungan akidah Islam terletak pada keunikan karakternya yang tidak dimiliki oleh agama atau kebudayaan mana pun di dunia. Karakter universal tersebut berupa sifat akidah yang komprehensif (syamilah).

Islam merangkul manusia secara utuh tanpa pernah memisahkan aspek spiritual atau akhirat dari pemenuhan kebutuhan jasmani dan duniawi. Kehidupan dunia dan akhirat berada dalam satu tarikan napas pengabdian.

Islam merupakan kesatuan akidah, pandangan dunia, sistem kehidupan, nilai moral, sekaligus aturan perilaku. Karena karakteristik inilah, Islam tidak menyisakan ruang bagi manusia untuk menyerahkan sebagian dirinya kepada penguasa dan sebagian lainnya kepada Allah Swt.

Di dunia ini, terdapat ajaran ibadah lain yang membolehkan seorang wanita menyerahkan tubuhnya kepada suami yang berbeda akidah. Ada pula ajaran yang membiarkan rakyat menyerahkan urusannya kepada tuan yang berbeda bangsa dan agama.

Bahkan, ada sistem yang membiarkan manusia hidup di tanah air tanpa hukum imannya karena keyakinan mereka terpisah dari urusan dunia. Namun, jiwa manusia secara fitrah tidak akan pernah menerima fragmentasi dalam eksistensi dirinya, baik sebagai individu maupun kelompok.

Jiwa tidak akan tunduk pada kezaliman kecuali ia merasakan kehinaan atas ketundukan tersebut, seraya terus mengintai waktu yang tepat untuk bangkit melawan. Melalui keteguhan prinsip inilah, kaum Muslimin berhasil mempertahankan eksistensi dan jati diri mereka sepanjang sejarah.

Konsep tauhid dalam Islam merupakan sumber kekuatan utamanya dalam segala dimensi makna. Dimensi tersebut meliputi tauhid kepada Allah Swt., penyatuan jiwa manusia, serta penyatuan alam ruh dan alam jasad.

Jika umat manusia di masa depan menginginkan dunia keimanan yang mampu membentengi mereka dari krisis disorientasi akidah akibat peradaban modern, maka masa depan itu hanya milik akidah yang menyatukan. Masa depan hanya milik ajaran yang menempatkan manusia dalam satu keselarasan utuh yang dihadapi oleh jiwa yang kokoh serta menyatu antara jasad dan ruhnya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh akidah Islam.[]

Abbas Mahmoud al-Aqqad – Dengan penyesuaian redaksional, dalam Al-Arabiyyah lin Nasyiin jilid 6.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button