Pertama Kalinya dalam Sejarah: Sepuluh Malam Terakhir Ramadan tanpa Jamaah di Al-Aqsa dan Ibrahimi
Kemarahan dan Kecaman Dunia
Penutupan dua tempat suci Islam tersebut memicu kemarahan luas di kalangan masyarakat Palestina serta kecaman dari sejumlah aktivis hak asasi manusia.
Banyak pengamat menilai bahwa pembatasan akses ke tempat-tempat suci selama Ramadan tidak hanya berdampak pada kehidupan religius masyarakat Palestina, tetapi juga memperdalam krisis kemanusiaan dan ketegangan politik di wilayah tersebut.
Bagi warga Palestina, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah momen kebersamaan, harapan, dan identitas spiritual yang sangat kuat. Karena itu, penutupan masjid pada malam-malam paling suci dianggap sebagai luka mendalam bagi komunitas Muslim.
Abu Sneineh menyerukan kepada organisasi internasional dan lembaga hak asasi manusia untuk segera bertindak.
Ia meminta tekanan internasional terhadap otoritas pendudukan agar membuka kembali Masjid Ibrahimi dan memungkinkan para jamaah melaksanakan kewajiban keagamaan mereka.
“Umat Muslim harus dapat beribadah secara bebas di tempat suci mereka,” ujarnya.
Di tengah keheningan malam Ramadan yang biasanya dipenuhi doa, ribuan warga Palestina kini hanya bisa menunggu di balik pos pemeriksaan, memandang ke arah kubah dan menara masjid yang tak lagi dapat mereka capai.
Namun bagi mereka, ikatan spiritual dengan tempat-tempat suci itu tetap tidak terputus—meskipun jalan menuju ke sana ditutup oleh tembok dan senjata.
sumber: infopalestina






