OPINI

Pemakaman Mladic: Apakah Tidak Ada Pelajaran yang Dipetik?

Tiga puluh tahun keadilan internasional hanya memberikan sedikit pelajaran bagi para pemimpin politik.

Oleh: Sir Geoffrey Nice, seorang pengacara hak asasi manusia. Gresham Professor of Law di Gresham College, London, serta pernah bertindak sebagai jaksa di International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY).

Hari ini, ribuan orang berkumpul di ibu kota Serbia, Beograd, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ratko Mladic. Pemimpin tentara Serbia Bosnia tersebut telah diputus bersalah atas kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY).

Siapa pun yang mengagungkan Mladic secara langsung menyetujui pembunuhan massal terhadap ribuan orang tak berdosa. Lantas, bagaimana kita harus menyikapi negara Serbia yang menggelar pemakaman dengan penghormatan negara untuknya? Atau sikap warga Serbia serta warga Serbia Bosnia yang menghadiri acara tersebut?

Apakah pengagungan ini mencerminkan keterbatasan keadilan internasional dengan menunjukkan bahwa hukum internasional telah gagal menghentikan perang dan segala bentuk kriminalitas perang?

Pertama, kemampuan keadilan internasional yang sangat terbatas dalam memberi pelajaran telah dibuktikan oleh perang yang diprakarsai oleh figur seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump.

Dengan pengalaman hukum kemanusiaan internasional selama tiga dekade di berbagai mahkamah dan tribunal internasional, mereka tampaknya tidak mempelajari apa pun. Mereka bahkan tidak memahami bahwa sebagian besar warga negaranya membenci perang dan tidak memiliki keinginan untuk terlibat di dalamnya.

Perang yang dicanangkan Putin tidak pernah memiliki pembenaran, tetapi ia tidak ragu mengumpankan ratusan ribu rakyatnya sendiri ke dalam mesin pembunuh untuk membantai warga Ukraina yang tidak bersalah. Perang yang digelorakan Trump pun tidak ada bedanya.

Sebagai perbandingan, perang pada dekade 1990-an di Balkan Barat tergolong kurang signifikan secara historis, sebagaimana konflik Balkan pada umumnya. Pelajaran mungkin baru akan muncul dari konflik serta perang besar yang melibatkan Rusia, AS, Israel, Iran, dan kekuatan lainnya.

Kedua, Mladic kemungkinan besar akan segera dilupakan di mana pun, kecuali di Serbia dan Republika Srpska di Bosnia. Saat ini saja, sudah ada mahasiswa di kawasan bekas Yugoslavia yang tidak lagi mengenali namanya.

Apakah ada tujuan perang yang sah untuk membenarkan tindakan yang dilakukannya? Tidak ada. Apakah tindakan membiarkan rakyat Sarajevo kelaparan dan menembaki mereka dapat dibenarkan? Tidak pernah. Apakah pembunuhan lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki di Srebrenica dapat dibenarkan? Tentu saja tidak.

Apakah pelajaran yang harus dipetik dari kematian dan pemakaman Mladic adalah mengenai bagaimana orang yang berpotensi baik dapat diubah menjadi jahat oleh pemimpin politik yang buruk dan pengalaman perang?

Pengagungan mereka terhadap Mladic, seburuk apa pun itu, harus memberikan pelajaran universal atau tidak memberi pelajaran sama sekali. Mungkin penting untuk mengingat kembali dari mana Mladic muncul.

1 2Laman berikutnya
Back to top button