Perundingan dengan Iran Mengungkap Keruntuhan Diplomasi AS
Pada era Trump, diplomasi Amerika tidak dipimpin oleh diplomat yang netral, melainkan oleh para investor real estat.
Hal ini sekaligus mengikis klaim Amerika Serikat sebagai mitra keamanan yang dapat diandalkan di kawasan tersebut ketika rudal menghantam sasaran militer dan ekonomi di berbagai negara Teluk.
Kushner dan Witkoff memikul tugas yang sulit dalam peran mereka saat ini sebagai perunding perdamaian. Mereka tidak hanya harus memenuhi tuntutan Amerika, tetapi juga memastikan negara-negara Teluk tetap yakin bahwa keamanan mereka sedang diperjuangkan.
Tentu saja, bentuk keamanan itu berbeda-beda bagi setiap negara. Ketika para perunding Amerika memiliki ketergantungan finansial dengan negara-negara tersebut, terbukalah peluang korupsi yang jelas dalam misi diplomatik mereka sebagai wakil kepentingan Amerika Serikat.
Namun, seperti seruan khas iklan televisi Amerika, masih ada lagi kejutan lainnya.
Walaupun kedua orang itu telah lama memiliki hubungan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, hubungan Kushner dengan Tel Aviv jauh lebih erat. Keluarganya telah menyumbangkan ratusan ribu dolar kepada organisasi pemukim Israel serta Friends of the IDF, sebuah lembaga amal di Amerika Serikat yang menggalang dana bagi militer Israel.
Di sisi bisnis, Affinity Partners telah berinvestasi di sektor teknologi Israel menggunakan dana yang diterimanya dari Arab Saudi. Sementara itu, dalam kapasitas diplomatiknya sebagai perunding mengenai Gaza, Kushner pernah berdiri di hadapan massa di Tel Aviv dan memuji para prajurit IDF (Israeli Defense Forces) yang luar biasa atas kepahlawanan, kecemerlangan, dan keberanian mereka.
Tampaknya, bagi Kushner dan Witkoff, Gaza menjadi tempat perpaduan antara investasi real estat dan diplomasi internasional mencapai bentuknya yang paling nyata.
Kushner mulai berbicara tentang Gaza sebagai sebuah peluang investasi pada 2024. Sejak itu, ia meluncurkan Project Sunrise (Proyek Matahari Terbit), nama yang terasa sangat Orwellian mengingat matahari di Gaza terbenam di atas Laut Mediterania dan terbit dari arah Israel.

Proyek tersebut kemudian diterjemahkan oleh Board of Peace, yang dewan eksekutifnya mencakup Kushner dan Witkoff, menjadi sebuah Master Plan for Gaza (Rencana Induk untuk Gaza). Rencana itu tampaknya terinspirasi oleh perpaduan antara kota perusahaan (company towns) dan kamp kerja (work camps).
Di dalamnya terdapat zona yang dibatasi secara tegas untuk kawasan industri dan permukiman. Warga Palestina akan dipaksa berkomuter di antara zona-zona tersebut tanpa dapat berpindah secara bebas dari satu bagian Gaza ke bagian lainnya.
Sementara itu, kawasan pesisir Gaza akan diubah menjadi deretan hotel mewah. Sebagaimana ditulis The Times of Israel, dalam waktu sepuluh tahun, 70 persen garis pantai Gaza harus dapat dimonetisasi.
Memang benar, setiap negara memiliki titik temu antara kepentingan bisnis dan kebijakan luar negeri. Namun, keduanya bukanlah hal yang sama, dan terlebih lagi tidak boleh disatukan dalam diri satu atau dua orang saja.





