Perundingan dengan Iran Mengungkap Keruntuhan Diplomasi AS
Pada era Trump, diplomasi Amerika tidak dipimpin oleh diplomat yang netral, melainkan oleh para investor real estat.
Keterikatan finansial Kushner dan Witkoff menjadikan mereka sasaran empuk bagi kecurigaan maupun upaya penyuapan. Keberadaan mereka mencerminkan kemunduran diplomasi Amerika secara keseluruhan.
Tentu saja, para diplomat Amerika sendiri telah melakukan banyak kesalahan. Namun, mereka melakukannya dengan iktikad baik dan bertindak berdasarkan apa yang mereka yakini sebagai kepentingan negara mereka.
Di komunitas diplomatik Washington, penyebutan nama Kushner dan Witkoff hampir selalu disambut dengan gelengan kepala dan cibiran. Namun, di kawasan Timur Tengah yang terdampak langsung, hampir mustahil membayangkan mitra perunding mendekati negosiasi dengan bertanya tentang apa yang dapat mereka tawarkan kepada Amerika Serikat.
Sebaliknya, mereka lebih mungkin memikirkan apa yang dapat mereka tawarkan kepada Affinity Partners dan World Liberty Financial.
Situasi ini diperparah oleh keinginan besar yang disampaikan secara terbuka oleh atasan mereka, Presiden Donald Trump, untuk mencapai sebuah kesepakatan. Maka, lengkaplah resep bagi munculnya kekacauan.
Hal ini bukan karena kesepakatan menjadi lebih sulit dicapai. Bahkan, memperoleh sebuah kesepakatan awal mungkin justru lebih mudah mengingat konflik kepentingan para perunding tersebut serta minimnya pemahaman mereka mengenai kawasan internasional.
Salah seorang perunding utama pemerintahan Barack Obama dalam perjanjian nuklir Iran sebelumnya bahkan merupakan seorang fisikawan nuklir, dan diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kesepakatan.
Sebaliknya, persoalannya adalah kesepakatan yang dihasilkan mungkin menguntungkan para perunding, tetapi gagal memperhitungkan kepentingan dan hak semua pihak, terutama kepentingan Amerika Serikat sendiri. Akibatnya, banyak kesepakatan semacam itu hanya akan bersifat sementara dan rentan mengalami keruntuhan yang bersifat katastrofik (menghancurkan).
Abraham Accords (Perjanjian Abraham) barangkali merupakan contoh paling jelas mengenai hal ini. Namun, kesepakatan mengenai Gaza, Lebanon, dan Iran masing-masing juga dapat terbukti memiliki cacat mendasar dalam konsekuensi yang ditimbulkannya.
Namun, apakah semua itu benar-benar penting?
Nilai utama yang dibawa Kushner dan Witkoff sesungguhnya adalah akses langsung mereka kepada seorang presiden yang terkenal tidak tertarik mendengarkan pandangan birokrasi profesional. Karena tidak ada kesepakatan yang dapat disahkan tanpa persetujuan Trump, kualitas yang paling menentukan dari setiap kesepakatan bukanlah apa yang ditawarkannya kepada pihak lawan, melainkan apa yang ditawarkannya kepada Gedung Putih.
Hasil akhirnya, selama situasi seperti ini terus berlangsung, adalah lahirnya serangkaian kesepakatan yang mampu menenangkan berbagai pihak dan menghasilkan keuntungan. Namun, kesepakatan itu tidak memiliki daya tahan untuk bertahan dalam jangka panjang. []
*Josh Paul adalah salah seorang pendiri A New Policy, sebuah organisasi nirlaba dan nonpartisan yang bergerak dalam advokasi dan kegiatan politik dengan tujuan mendorong perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap Palestina dan Israel. Sebelumnya ia menjabat dalam berbagai posisi di bidang keamanan nasional Amerika Serikat hingga mengundurkan diri dari Departemen Luar Negeri AS pada 2023 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan terkait Gaza.
Sumber: Al Jazeera





