Pesan KH Abbas Aula di Pelantikan Pengurus DDII Kota Bogor: Dakwah Harus Dilakukan Bersama dan Istiqamah
“Ja’far menjelaskan kepada Raja Najasyi bahwa Islam telah mengubah kehidupan manusia dari masa jahiliyah menuju kehidupan yang penuh cahaya, akhlak, dan keadilan. Inilah hakikat dakwah, yaitu menghadirkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik,” ujar Kiai Abbas Aula.
Pimpinan Pondok Pesantren Qur’an wal Hadis Bogor itu menambahkan, bentuk jahiliyah juga tidak hanya terbatas pada penyembahan berhala berupa patung.
“Berhala bukan hanya menyembah patung. Dinar, dolar, uang, bahkan hawa nafsu yang dijadikan tuhan juga merupakan bentuk berhala. Jahiliyah tidak hanya terjadi pada masa sebelum Islam, tetapi bisa terus berlangsung hingga hari kiamat. Karena itu dakwah tidak boleh berhenti,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan tiga faktor penting agar dakwah menjadi gerakan perubahan yang efektif.
Pertama, dakwah harus dilakukan secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Ia menekankan pentingnya kerja sama antar lembaga dalam menjalankan misi dakwah sesuai firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 71.
“Bekerja sama bukan sekadar sama-sama bekerja. Dibutuhkan koordinasi antar lembaga. Ada yang berdakwah melalui lisan, ada yang menyiapkan fasilitas, semuanya bergerak dalam satu tujuan yaitu menghadirkan perubahan,” katanya.
Kedua, dakwah harus dilakukan secara istiqamah. Ia mengutip Surah Fussilat ayat 30 sebagai landasan agar dakwah terus dilakukan secara berkesinambungan di berbagai bidang kehidupan.
Ketiga, dakwah harus dilakukan secara terprogram dan terorganisasi. Mengutip Surah Ali Imran ayat 104, ia menegaskan pentingnya membangun organisasi dakwah yang kuat.
Ia juga mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa kebenaran yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang tertata secara rapi.
“Sesuatu yang hak yang tidak ditata secara terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang tertata secara terorganisir,” ujarnya.
Kiai Abbas Aula kemudian mengajak seluruh pengurus meneladani perjuangan Mohammad Natsir, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Menurutnya, M. Natsir tidak hanya dikenal sebagai tokoh dakwah, tetapi juga sebagai negarawan yang menggagas Mosi Integral sehingga berperan penting dalam lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bersama para tokoh pemersatu bangsa, M. Natsir membangun tiga pilar utama dakwah, yaitu masjid, kampus, dan pesantren.






