Poin Krusial Kesepakatan Iran-AS
Dua Hal Jelas
Dari paparan di atas, ada dua hal yang menjadi sangat jelas bagi kita. Pertama, kesepakatan yang diusulkan bukanlah perdamaian sejati, melainkan “gencatan senjata bersyarat” yang sarat dengan jebakan waktu.
MoU hanya memberikan waktu 60 hari untuk membahas masalah nuklir—jangka waktu yang sangat pendek mengingat kompleksitas teknis dan politik yang terlibat.
Iran ingin memisahkan isu nuklir dari pengakhiran perang, sedangkan AS bersikeras bahwa uranium harus disingkirkan sebelum ada keringanan ekonomi.
Slogan “No dust, no dollars” menunjukkan bahwa Washington tidak akan memberikan konsesi finansial sebelum melihat bukti fisik pelucutan nuklir. Ini adalah jalan buntu klasik yang bisa membuat meja negosiasi berantakan dalam hitungan minggu.
Kedua, kendali atas Selat Hormuz menjadi pusat kekuasaan yang paling diperebutkan. Iran bersikeras selat tetap di bawah pengawasannya dan dikoordinasikan dengan Oman, bukan AS.
Mereka juga mengecualikan kapal militer dari komitmen untuk membuka selat. Ini berarti meskipun lalu lintas komersial kembali normal, Iran masih bisa mempersulit pergerakan armada perang AS di Teluk Persia.
Perubahan Strategi AS
Kesepakatan ini menunjukkan perubahan strategi besar AS dari “menggulingkan rezim” (rencana awal yang optimistis) menjadi “menstabilkan kawasan dengan harga yang dapat dinegosiasikan” (rencana akhir yang realistis).
Trump yang awalnya melancarkan perang habis-habisan, kini tampak terburu-buru mencari kesepakatan karena tekanan pemilu paruh waktu AS.
Namun, ia menghadapi dilema yang sama seperti pendahulunya: terlalu lunak pada Iran akan dikritik oleh Israel dan lobi pro-Israel di AS; terlalu keras akan membuat Iran meninggalkan meja perundingan.
Sementara itu, Iran bermain lebih cerdik dengan memisahkan isu nuklir dari pengakhiran perang. Mereka ingin mengamankan pencairan aset dan pencabutan sanksi terlebih dahulu, baru kemudian berbicara tentang uranium.
Taktik ini berisiko karena AS tidak akan pernah percaya pada janji Iran tanpa verifikasi yang ketat.
Di sisi lain, Lebanon menjadi variabel pengganggu. Iran mendorong gencatan senjata di semua front, termasuk Lebanon, sementara Netanyahu justru mengintensifkan operasi di sana.
Jika perang Israel-Hizbullah meletus lebih besar, seluruh kesepakatan AS-Iran bisa runtuh sebelum benar-benar dimulai.






