Presiden Afsel: Gencatan Senjata Gaza Tak Pengaruhi Gugatan Genosida terhadap Israel
Namun, Pandor menegaskan bahwa pengalaman masa lalu apartheid membuat Afrika Selatan memiliki kewajiban moral untuk membela rakyat Palestina:
“Dalam perjuangan kami melawan apartheid, banyak bangsa dan organisasi yang membantu kami. Jadi kami menganggap solidaritas internasional dan hukum internasional sangat penting,” katanya. “Kami percaya kejahatan terhadap kemanusiaan sedang terjadi di Gaza, dan kami tidak bisa berdiam diri.”
Dari Mandela ke Palestina
Apartheid di Afrika Selatan mulai runtuh pada 1990 saat Nelson Mandela dibebaskan, dan berakhir pada 1994 ketika mayoritas kulit hitam pertama kali diperbolehkan memilih.
Mandela dan pemimpin Palestina Yasser Arafat memiliki hubungan erat. Pada Desember 1997, Mandela berkata: “Kami tahu betul bahwa kebebasan kami tidak lengkap tanpa kebebasan rakyat Palestina.”
Tugas berikutnya: keadilan dan kedaulatan
Hampir dua tahun setelah menggugat Israel, tujuan mendesak Afrika Selatan — menghentikan pembunuhan di Gaza — akhirnya tercapai, meski dengan harga nyawa yang mahal.
Kini, kata Pandor, tugas berikutnya adalah memastikan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, berdaulat, dan mendapatkan keadilan.
“Rakyat Palestina mengharapkan lebih dari sekadar kata-kata di atas kertas,” katanya.
“Dunia telah kehilangan otoritas moralnya, dan sudah saatnya mengembalikannya. Saya bangga negara saya punya keberanian untuk berdiri teguh atas hukum internasional dan hak asasi manusia.” []
Sumber: Al Jazeera






