IBRAH

Rabiah ar-Ra’yi, Kisah Investasi Ilmu Terbesar Seorang Ibu dan Kembalinya sang Ayah

Ibu pemilik rumah yang sedang tidur di kamar terbangun karena mendengar suara keributan yang sangat bising. Ia segera melongok dari jendela dan tersentak saat mengenali wajah penunggang kuda tersebut adalah suaminya yang telah lama hilang.

Ia berteriak dengan lantang kepada kerumunan jemaah, “Lepaskan dia! Lepaskan dia, wahai Rabiah! Lepaskan laki-laki itu, anakku, karena sesungguhnya dia adalah ayah kandungmu!” Begitu kalimat tersebut terdengar oleh Farrukh dan Rabiah, amarah mereka seketika luruh dan keduanya langsung saling berpelukan dengan erat diselimuti rasa haru.

Farrukh kemudian duduk berdua bersama istrinya untuk menceritakan segala peristiwa yang dialaminya selama tiga puluh tahun di perantauan. Di tengah pembicaraan, ia berkata, “Wahai ibu Rabiah, saat ini aku membawa pulang empat ribu dinar, lalu di manakah harta tiga puluh ribu dinar yang dahulu kutitipkan kepadamu? Aku berencana mempergunakan uang tersebut untuk membeli sebidang kebun atau aset properti.”

Sang istri menjawab dengan tenang, “Aku telah menaruh harta tersebut di tempat yang paling tepat dan mulia, aku akan menunjukkannya kepadamu beberapa hari lagi, insyaallah.”

Keesokan harinya setelah mengambil air wudu, Farrukh bertanya kepada istrinya, “Di manakah Rabiah?” Istrinya menjawab, “Ia telah berangkat menuju masjid sejak kumandang azan pertama.”

Ketika Farrukh tiba di Masjid Nabawi, ia mendapati bahwa salat berjamaah telah selesai dilaksanakan sehingga ia terpaksa mendirikan salat sendiri. Usai salat, ia terpaku melihat sebuah halakah keilmuan yang sangat besar dan megah, yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Ia melihat ratusan orang duduk melingkar berdesakan mengelilingi ulama yang memimpin halakah tersebut. Farrukh mencoba menyelisik untuk melihat wajah sang guru namun tidak berhasil karena posisinya yang berada di barisan belakang.

Begitu pelajaran selesai diklasifikasikan, Farrukh bertanya kepada seorang jemaah di dekatnya mengenai identitas ulama tersebut. Jemaah itu terkejut dan balik bertanya, “Apakah engkau bukan penduduk asli Madinah? Memangnya ada satu orang saja di kota Madinah ini yang tidak mengenal syekh agung tersebut?”

Farrukh menjawab dengan jujur, “Aku telah meninggalkan kota Madinah ini selama tiga puluh tahun dan baru kembali kemarin malam.” Jemaah itu kemudian berkata, “Duduklah, aku akan menceritakan kepadamu mengenai keagungan syekh ini.”

Ia menjelaskan bahwa ulama yang memimpin halakah tersebut adalah salah satu pemimpin terkemuka dari generasi tabiin. Pemuda tersebut merupakan ahli hadis, pakar fikih, sekaligus imam besar kota Madinah meskipun usianya masih tergolong sangat muda.

Ia menambahkan bahwa halakah keilmuannya dihadiri oleh murid-murid dari kalangan ulama besar seperti Malik bin Anas, Abu Hanifah an-Numan, Yahya bin Said, Sufyan ats-Tsauri, al-Auzai, hingga Al-Laits bin Saad. Di samping keluasan ilmunya, syekh tersebut juga dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan rendah hati.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button