Rabiah ar-Ra’yi, Kisah Investasi Ilmu Terbesar Seorang Ibu dan Kembalinya sang Ayah
Farrukh menyela pembicaraan tersebut, “Namun engkau belum menyebutkan siapa nama aslinya?” Jemaah itu menjawab, “Namanya adalah Rabiah, tetapi para ulama Madinah menjulukinya sebagai Rabiah ar-Ra’yi (Rabiah sang Pemikir).”
Ia dijuluki demikian karena apabila tidak menemukan dalil teks (nas) yang eksplisit di dalam Al-Qur’an dan hadis untuk suatu perkara, ia akan berijtihad menggunakan nalar logis yang objektif. Ia akan mengomparasikan dan menganalogikan (qiyas) perkara baru yang belum memiliki ketetapan hukum hukumnya dengan perkara lama yang telah memiliki ketetapan hukum teksnya.
Farrukh bertanya kembali dengan suara bergetar, “Lalu siapakah nama ayah kandungnya?” Jemaah itu menjawab, “Ayah kandungnya bernama Farrukh, dan aku mendengar kabar bahwa ayahnya baru saja tiba kembali di Madinah kemarin malam.”
Mendengar jawaban tersebut, air mata Farrukh seketika tumpah dan membasahi janggutnya karena rasa haru dan bangga yang luar biasa.
Farrukh segera melangkah pulang ke rumah dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Begitu bertemu dengan istrinya, ia berkata dengan penuh kekaguman, “Sungguh, aku telah melihat putra kita, Rabiah, berada di puncak kedudukan ilmu dan kemuliaan yang belum pernah kusaksikan dicapai oleh satu pun manusia sebelum ini.”
Ibu Rabiah kemudian mengajukan sebuah pertanyaan reflektif kepada suaminya, “Manakah yang paling engkau cintai dan berharga bagimu, harta tiga puluh ribu dinar yang dahulu engkau titipkan atau kedudukan ilmu dan kemuliaan yang telah dicapai oleh putramu saat ini?” Farrukh menjawab dengan tegas, “Demi Allah, pencapaian putra kita ini jauh lebih kucintai dan lebih utama bagiku daripada seluruh harta benda dan kekayaan yang ada di dunia ini!”
Sang istri tersenyum lalu berkata, “Ketahuilah bahwa aku telah menghabiskan seluruh uang tiga puluh ribu dinar yang engkau titipkan dahulu murni untuk membiayai pendidikan dan investasinya ilmu putra kita. Apakah hatimu rida dan rida dengan apa yang telah kulakukan?” Farrukh menjawab dengan penuh kebahagiaan, “Tentu saja aku sangat rida, semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan balasan pahala yang terbaik untukku, untuknya, dan untuk seluruh umat Islam.” []
Oleh: Dr. Abdul Rahman Ra’fat al-Basya (Dengan Penyesuaian), dalam kitab Al-Arabiyyah lin Nasyiin Jilid 6.






