#Gencatan SenjataOPINI

Rayakan Gencatan Senjata, Tapi Jangan Lupa: Gaza Bertahan Sendiri

Para pemimpin Barat kini mengklaim pujian atas “perdamaian”, tetapi kelangsungan hidup Gaza hanya milik rakyatnya sendiri.

Sebagai seorang beriman, aku teringat ayat ini: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (Surah Al-Baqarah: 11)

Tak ada yang lebih sinis daripada menyebut “perdamaian” setelah dua tahun kelaparan, pemboman, dan kuburan massal, ketika yang mereka kirim bukan makanan, melainkan kain kafan.

Sementara Gaza berdarah, para penguasa menyempurnakan seni penyangkalan.

Dan ketika aku melihat rakyat Gaza merayakan di jalanan, aku tahu bahwa perayaan itu hanya milik mereka sendiri — bukan milik Donald Trump, yang mengumumkan akan mengunjungi kawasan itu untuk mengambil pujian atas apa yang ia sebut “momen bersejarah”, dan bukan milik para pemimpin Barat yang meraup untung dari kehancuran Gaza sambil berpura-pura netral.

Mereka yang bergegas ke depan kamera untuk mengklaim pujian adalah orang-orang yang membuat genosida itu mungkin terjadi — mereka yang mendanainya dengan miliar-an dolar bantuan militer, mempersenjatainya dengan rudal berpemandu presisi, dan memberi perlindungan diplomatik di PBB, dengan memveto berulang kali resolusi Dewan Keamanan tentang gencatan senjata.

Amerika Serikat bahkan menyetujui tambahan $14,3 miliar bantuan militer selama genosida berlangsung, melewati pengawasan kongres untuk mempercepat pengiriman rudal Apache, peluru artileri 155mm, alat penglihatan malam, dan bom penghancur bunker — yang semuanya jatuh di atas kepala keluarga yang sedang tidur.

Kita yang duduk nyaman di Barat harusnya merasa malu. Orang Amerika suka membayangkan diri mereka berada di sisi sejarah yang benar. Kita sering berkata bahwa jika kita hidup di masa Jim Crow atau Holocaust, kita pasti akan melakukan apa pun untuk menghentikannya.

Namun kini, dengan 340 juta jiwa di Amerika, kita bahkan tak bisa menghentikan uang pajak kita dari mendanai pemusnahan massal. Kita bahkan tak bisa mengirimkan susu bayi, sementara kita melihat tubuh bayi-bayi itu mengering.

Banyak dari kita memilih berdiam dalam keterlibatan pasif, mencari pembenaran untuk hal yang tak termaafkan, menyalahkan Palestina atas kematian mereka sendiri, dan berpaling dari horor karena mengakuinya berarti menghadapi kenyataan bahwa pemerintah kita turut mendanainya.

Kegagalan kita tidak menghapus perlawanan Palestina — justru membuatnya semakin nyata.

Satu-satunya tekanan yang berarti datang dari orang-orang yang Israel tidak bisa bungkam — rakyat Palestina yang menyiarkan kematian mereka sendiri secara langsung, agar dunia tidak bisa mengaku tidak tahu atau menerima kebohongan Israel sebagai kebenaran.

Gaza bertahan karena perlawanan rakyatnya sendiri, perlawanan yang menjadi hak mereka sepenuhnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button