Refleksi Hari Santri: Ketika Agama Jadi Konten, Adab dan Ilmu Dikorbankan
Penguasaan pengetahuan yang mumpuni akan sangat membantu seseorang untuk memetakan apa yang sebenarnya sedang diperdebatkan secara esensial. Sementara itu, adab akan menjadi peranti rem spiritual yang mengingatkan bahwa pencarian kebenaran tidak pernah memberi izin sedikit pun untuk merendahkan sesama muslim.
Hari Santri dan Tanggung Jawab Menuntut Ilmu
Peringatan kemeriahan Hari Santri memberi momentum berharga bagi umat untuk menilik kembali luhurnya tradisi pendidikan khas pesantren. Di dalam ruang lingkup institusi tersebut, terus terawat semangat belajar pantang menyerah yang menuntut ketekunan para santri dalam membaca literatur. Ekosistem pesantren juga sukses menanamkan kesabaran luar biasa dalam memahami ilmu serta menjunjung tinggi penghormatan terhadap hierarki proses belajar.
Tentu saja, wujud pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan tidak akan selalu seratus persen luput dari pusaran dinamika persoalan. Namun, sari pati nilai-nilai ketekunan pendidikan tersebut sangat layak dan mendesak untuk diadaptasi ke dalam budaya ruang digital masa kini. Arus sirkulasi informasi maya yang serba instan ini sering kali merampas hak serta waktu warganet untuk memahami persoalan secara utuh dan saksama.
Oleh sebab itu, perayaan Hari Santri pantang hanya berhenti pada hingar-bingar seremoni peringatan sejarah dan selebrasi kebanggaan simbol-simbol keagamaan. Peringatan sarat makna ini seyogianya bertransformasi menjadi ruang reflektif untuk bertanya pada diri sendiri tentang sejauh mana kualitas keberagamaan kita. Sudahkah cara kita beragama hari ini benar-benar memantulkan cermin kesungguhan dan ketawadukan dalam menuntut ilmu Islam?
Ketika narasi suci agama telah direduksi nilainya menjadi komoditas konten semata, parameter keberhasilannya pun akan ikut bergeser secara pragmatis. Indikator kesuksesan seorang juru dakwah kini lebih masif diukur berdasarkan tingginya kurva viewers, followers, dan jumlah engagement belaka. Padahal, manifestasi sukses dakwah hakikatnya terletak kokoh pada peningkatan kualitas pemahaman umat dan besarnya rasa tanggung jawab moral yang mengiringinya.
Solusi paling bijak dari rentetan fenomena ini bukanlah dengan bersikap ekstrem lalu menjauhkan narasi agama dari ekosistem media sosial. Langkah strategis dan tepat yang wajib diambil umat adalah mereposisi ulang fungsi luhur media sosial semata-mata sebagai sarana medium siar penunjang. Jejaring media sosial sama sekali tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk dijadikan standar baku ukuran kebenaran maupun tolok ukur level kesalehan seseorang.
Hal yang patut diwaspadai dari pergeseran zaman ini bukanlah masifnya ajaran agama yang menghiasi layar ponsel setiap hari. Potensi bencana peradaban sesungguhnya akan terjadi ketika kita terbuai ilusi merasa sedang gigih membela muruah agama di ranah publik maya. Padahal, pada kenyataan pahitnya kita hanya sedang taklid buta, egois mempertahankan fanatisme, dan gila hormat membela harga diri kelompok semata.
Efek berantai fenomena ini membuat umat terperangkap kesibukan memburu euforia kemenangan perdebatan online hingga perlahan abai memperbaiki kualitas nalar kritis. Kita terlampau berapi-api menguliti dengan kejam setiap celah kesalahan orang lain dalam menjalankan syariat beragama. Ironisnya, semangat mengkritik menggebu-gebu itu sering kali berdampingan mesra dengan sikap arogan keengganan bermuhasabah memeriksa kekurangan diri sendiri.
Tepat pada momentum sarat makna Hari Santri ini, pertanyaan yang patut diajukan ke ruang publik bukan lagi sekadar membedah siapa kelompok keagamaan yang paling benar tatarannya. Pertanyaan esensial sekaligus tamparan kerasnya adalah, apakah lautan ilmu yang dikaji selama ini telah efektif membentuk kita menjadi manusia beriman yang jauh lebih jujur? Ilmu keagamaan sejati seharusnya ampuh menuntun nurani umat untuk selalu objektif mencari kebenaran mutlak serta berani bertanggung jawab penuh saat mendakwahkannya kepada orang lain.
Kesucian dan keluhuran agama Islam tentu tidak akan luntur atau kehilangan kehormatannya sedikit pun hanya karena terus-menerus dibicarakan di arena bising media sosial. Namun, ketika nilai luhur adab dengan sengaja dikorbankan demi meraup atensi dan validasi murahan, umat Islam patut lekas kembali mempertanyakan niat awalnya di hadapan Tuhan. Jangan-jangan, entitas yang tumbuh membesar pesat saat ini bukanlah level kepahaman keagamaan kita, melainkan akutnya penyakit ashabiyah atau ego kebanggaan buta terhadap kelompok sendiri.[]






