OASE

Refleksi Hijrah: Tinggalkan Sekulerisme, Menuju Kehidupan Islam Kaffah

Perbandingan Hijrah Dahulu dan Sekarang

Pada masa Rasulullah saw., tujuan utama hijrah sangat jelas, yakni menyelamatkan iman sekaligus membangun institusi masyarakat Islam pertama yang menerapkan syariat secara menyeluruh. Tantangan konkrit yang dihadapi para sahabat saat itu berupa penyiksaan fisik secara keji, boikot ekonomi, dan ancaman pembunuhan.

Sebaliknya, pada era modern saat ini, tantangan yang dihadapi oleh umat Islam memiliki bentuk yang jauh lebih samar dan beradab namun destruktif. Ancamannya bukan lagi berupa bilah pedang atau penyiksaan fisik di padang pasir, melainkan gempuran arus sekularisme, materialisme, liberalisme, serta hedonisme.

Berbagai pemikiran asing tersebut berupaya keras memisahkan nilai-negara agama dari realitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya, bentuk hijrah yang paling mendesak saat ini bukanlah berpindah wilayah, melainkan transformasi cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan yang berlandaskan pada tuntunan Islam.

Makna Hijrah bagi Muslim di Era Modern

Esensi terpenting dari hijrah bagi generasi Muslim hari ini adalah memahami bahwa perubahan sejati harus bersifat substantif, bukan sekadar artifisial. Perubahan model pakaian, perpindahan lingkungan pergaulan, atau pergantian identitas di media sosial baru menyentuh permukaan atau disebut sebagai hijrah perasaan (syu’uriyyah).

Tanpa diikuti oleh perubahan pola pikir (fikriyah), perbaikan perilaku (sulukiyyah), serta pergeseran orientasi hidup, hijrah hanya akan menjadi sebuah tren gaya hidup yang dangkal. Kita harus menyadari bahwa tantangan terbesar umat hari ini bukan lagi penyembahan terhadap berhala batu sebagaimana zaman jahiliah Arab kuno.

Jahiliah modern hadir secara terstruktur dalam bentuk ideologi dan sistem kehidupan yang menempatkan manusia sebagai pembuat hukum tertinggi, sementara hukum Allah Swt. dipinggirkan hanya dalam urusan ibadah ritual di masjid. Akibat dari sekularisasi ini, standar benar dan salah akhirnya ditentukan oleh hawa nafsu, kepentingan politik, suara mayoritas, atau kesepakatan manusia.

Jika dahulu hijrah berarti meninggalkan tatanan jahiliah Makkah menuju masyarakat Islam di Madinah, maka pada era modern, hijrah harus dimaknai sebagai proses eksodus dari nilai-nilai jahiliah modern menuju kehidupan yang menjadikan syariat Allah Swt. sebagai pedoman tunggal.

Hijrah adalah sebuah proses perpindahan paradigma berpikir. Proses ini menuntut kita mengubah cara memandang kehidupan dan cara menyelesaikan berbagai persoalan umat hanya berdasarkan petunjuk wahyu, yakni dengan sistem Islam yang revolusioner.

Pada hakikatnya, inti dari makna hijrah tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Dahulu kaum Muslim rela meninggalkan tanah kelahiran mereka di Makkah demi membangun tatanan kehidupan baru yang tunduk sepenuhnya di bawah naungan syariat Allah Swt.

Hari ini, ketika syariat tersebut sudah diturunkan secara sempurna, kaum Muslim dituntut untuk meninggalkan pola pikir sekuler menuju penerapan Islam yang menyeluruh (kaffah). Sebab, hakikat sejati dari hijrah bukanlah tentang ke mana kaki melangkah atau ke mana seseorang berpindah, melainkan kepada aturan siapa ia memilih untuk menundukkan diri.

Oleh karena itu, hijrah tidak boleh direduksi sekadar menjadi sebuah merek dagang (brand), simbol kelompok, atau tren budaya yang dikonsumsi secara instan. Hijrah yang sahih harus mampu melahirkan transformasi total pada aspek akidah, pola pikir, akhlak mulia, hingga tatanan kehidupan sosial.

Melalui komitmen ini, seorang Muslim tidak hanya akan saleh secara individual, tetapi juga memiliki kesadaran kolektif untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara berjamaah.

Langkah transformatif inilah yang menjadi jalan utama untuk mengembalikan kehidupan umat agar senantiasa berada di bawah naungan syariat Allah Swt. Hal ini selaras dengan contoh nyata yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw. dalam membangun peradaban agung yang menjadi rahmat bagi semesta alam (raḥmatan lil-‘ālamīn). []

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button