LAPSUS

Rezim Gagap Bencana

Sesungguhnya, rentetan bencana yang berpuncak terjadinya tsunami itu dimulai sekitar pukul 13.59 di Donggala dengan gempa berkekuatan 5,9 SR. Kemudian terjadi lagi pada pukul 17.02 dengan kekuatan 7,4 SR. Di antara dua gempa besar itu, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terjadi tiga gempa kecil.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan, gempa pertama berkekuatan 5,9 skala Richter dengan pusat gempa 2 km utara Kota Donggala pada kedalaman 10 km. Di sini, gempa tidak berpotensi tsunami. Sementara gempa sesudahnya pada pukul 17:02 terjadi 27 km timur laut Donggala, atau 80 km barat laut Palu, dan menimbukan peringatan tsunami.

Sesar Palu Koro

Gempa bumi di Donggala, Sulawesi Tengah, ini terjadi satu bulan setelah gempa dahsyat Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus 2018 lalu. Namun gempa di Lombok dan Donggala itu diklaim tidak berkaitan.

“Tidak ada hubungannya sama sekali antara gempa di Lombok dengan di Palu Koro tadi, di Donggala. Hal yang berbeda, mekanismenya berbeda, sumber-sumber gempanya juga berbeda. Dan kedua daerah, baik di Lombok maupun di Donggala di sini juga memiliki sumber-sumber gempa,” kata Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial, BMKG, Bambang Setiyo Prayitno, seperti dilansir BBC News Indonesia.

Menurut Prayitno, gempa di Donggala terjadi karena pergerakan sesar Palu Koro dan kondisi di Sulawesi lebih rumit karena ada pergerakan lempeng dari utara, selatan, dan timur. Menurutnya gempa di Donggala adalah “gempa bumi tektonik diakibatkan sesar Palu Koro, Selat Makasar”.

Prayitno mengungkap, pergerakan sesar Palu Koro telah menyebabkan gempa beberapa kali, antara lain meliputi gempa di Sulawesi Tengah pada 14 Agustus tahun 1968 dengan kekuatan 6 skala Richter, gempa di Sulawesi Tengah dengan kekuatan 7,8 pada 1 Januari tahun 1996, dan pada 14 Mei 1921 dengan kekuatan 6,3 skala Richter.

Gagap Bencana

Musibah bencana dalah kehendak Allah Swt, Dzat Penguasa Alam Semesta. Taka ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta tanpa kehendak dan perintah-Nya. Bagi kaum beriman, musibah bencana ini adalah ujian dan teguran (tadzkirah). Sementara bagi kaum kafir, bencana yang bertubi-tubi adalah azab dari Allah Swt.

BNPB, per 8 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB merilis, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulteng meningkat menjadi 1.948 korban. Jumlah tersebut terdiri dari 1.539 korban dari Palu, 171 korban dari Donggala, 15 dari Parigi Moutong, dan satu korban dari Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat terdapat 10.679 orang luka berat. Tercatat pula 835 orang hilang yang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat gempa dan tsunami.

Selain itu, jumlah warga yang mengungsi 74.444 orang di 147 titik. Dilaporkan pula, 65.733 rumah dan 2.736 sekolah rusak. Juga terdapat tujuh fasilitas kesehatan rusak berat, yang terdiri dari satu rumah sakit dan enam puskesmas.

Bencana gempa dan tsunami yang melanda kawasan Sulawesi Tengah ini hanya berselang sebulan setelah gempa dahsyat melanda Nusa Tenggara Barat (NTB). Artinya, belum selesai pengurusan korban gempa NTB, masyarakat dan pemerintah langsung dihadapkan pada persoalan korban gempa dan tsunami Sulteng.

Faktanya, menghadapi bencana yang datang bertubi-tubi ini nampak sekali sikap pemerintah. Gagap, bukan tanggap. Penanganan bencana amburadul. Indonesia telah berulangkali menghadapi bencana gempa dan tsunami, mulai dari Aceh, Nias, Mentawai, Yogya hingga Padang, tetapi tidak pernah terjadi seperti yang terjadi hari ini di era Jokowi.

Menurut Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman, dari waktu ke waktu koordinasi kepemimpinan Jokowi memang kurang baik.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button