‘Robot Meledak Israel’ Masih Meneror Permukiman Gaza
Pada pagi November itu, Shadi sedang di jalan mencari kebutuhan harian bagi dirinya dan keluarganya yang terdiri dari sembilan orang, ketika ia melihat robot diseret ke arah lingkungannya oleh buldoser D10.
“Mereka masuk ke blok itu, dan aku mulai berlari menjauh. Aku berlari setidaknya 100 meter, lalu tiba-tiba aku berada di bawah reruntuhan — ledakannya begitu dahsyat. Mereka yang lebih dekat, tak ada yang tersisa — bahkan bagian tubuh pun tidak.”
Beberapa hari kemudian, ia kehilangan seorang teman.
“Temanku sakit dan perlu ke Rumah Sakit Kamal Adwan. Aku menemaninya, dan di jalan kami melihat robot datang. Dalam kepanikan, kami berlari ke arah berbeda.
Ledakannya luar biasa besar, bumi pun terasa bergetar. Saat aku kembali ke tempat terakhir aku melihatnya… tak ada jejaknya. Tubuhnya benar-benar lenyap.”
Menurut laporan Euro-Med, kehancuran luas dan tanpa pandang bulu yang disebabkan oleh perangkat-perangkat ini menempatkannya “dalam kategori senjata terlarang, dan penggunaannya di daerah padat penduduk merupakan kejahatan perang sekaligus kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Baik militer Israel maupun pemerintah belum secara terbuka mengakui penggunaan senjata ini, meskipun beberapa media Israel telah melaporkannya.
Militer Israel tidak menanggapi permintaan komentar dari Al Jazeera.
Dampak Beracun dan Krisis Pernapasan
Efeknya tidak berhenti pada ledakan, jelas Dr. Mohammed Abu Afash, direktur Palestinian Medical Relief Society di Gaza.
“Robot peledak” itu meninggalkan uap dan gas beracun, katanya — “bau busuk yang kuat” yang bertahan lama dan menyebabkan gangguan pernapasan serius.
“Kasus berulang sesak napas dan kesulitan bernapas terus muncul, dan warga masih menderita gejala ini akibat menghirup gas beracun yang diyakini mengandung timbal dan bahan kimia berbahaya,” tambahnya.






