IBRAH

Ruang Sosial Berubah, Jati Diri Berganti?

Peristiwa ini membuktikan bahwa makna dari setiap helai pakaian akan berubah makna sesuai dengan ruang sosialnya. Jubah atau abaya yang dulunya sudah biasa ia kenakan di pondok pesantren, bahkan menjadi pakaian sehari-hari, akan terasa aneh, canggung, bahkan sedikit memalukan ketika ia pakai dalam lingkungan kampus.

Ruang sosial yang berbeda tidak hanya berdampak pada perubahan makna dalam pakaian semata, namun juga berdampak pada lapisan identitas diri. Ketika seseorang mengikuti gaya berpakaian ruang sosial yang baru, maka tanpa ia sadari perlahan hal itu dapat merubah atau bahkan menghilangkan identitas dirinya.

Mahasiswi lulusan pondok pesantren, yang dulunya terbiasa dengan pakaian yang longgar sebagai bentuk komitmen menjaga auratnya secara sempurna, ketika dia masuk ke lingkungan baru yang memiliki pandangan berbeda, dia pun akan mulai menyesuaikan diri.

Perlahan dia akan menyesuaikan bahkan mengikuti kultural serta budaya di lingkungan baru tanpa menyadari bahwa setiap langkah penyesuaian itu justru menghapus dan mengikis identitas yang dulu ia bangun.

Salah satu contoh faktual lagi yang terjadi adalah adanya seorang mahasiswi, sebut saja namanya Rohmah. Dulunya dia seorang santri yang terbiasa mengenakan pakaian longgar, berjubah, dan memakai rok sebagai bentuk komitmen menjaga auratnya secara sempurna. Namun, ketika berada di ruang sosial yang berbeda, yang menganggap cara berpakaiannya tampak aneh. Ia perlahan menyesuaikan diri.

Tanpa disadari, ia mulai suka mengenakan celana, memakai pakaian yang lebih ketat dan meninggalkan kebiasaan lamanya. Ia tak lagi memperhatikan pakaiannya, tak lagi memperhatikan auratnya secara sempurna. Dan hal itulah yang menyebabkan sebagian dari identitas yang dulu ia bangun pun ikut memudar bahkan hilang.

Ruang sosial baru seharusnya menjadi ruang belajar, ruang mencari pengalaman serta relasi, dan ruang untuk berkembang, bukan menjadi tembok penghalang yang membuat kita malu pada jati diri sendiri.

Kita tidak perlu menanggalkan apa yang sudah menjadi kebiasaan (habit), identitas dan jati diri kita. Sebab identitas dan kebiasaan kita akan tumbuh kuat ketika kita berani membawanya ke ruang sosial yang lebih luas.[]

*Putri Eka Hidayatul Nurrohmah, Mahasiswi Prodi Bahasa dan Sastra Arab, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button