Tanpa Makna, Hidup Mau ke Mana?
Langkah demi langkah menyambut lelah. Tanpa terasa, kita masih berada di titik yang sama. Tanpa tujuan, kita tidak akan ke mana-mana. Jangan-jangan, selama ini kita berlari hanya karena orang-orang melakukan hal serupa. Saat ditanya alasannya, mungkin jawabannya, “ya masa aku diam saja saat orang-orang lain bersekolah?”
Anehnya, pola ini berlaku hampir di semua aktivitas pemuda: membuat status, ngonten di medsos, self-reward, jalan-jalan, dan seterusnya. Rutinitas mereka berulang setiap hari: bangun, sekolah, pulang, main, scrolling, tidur, lalu diulang lagi dari awal. Tak heran jika akhirnya perasaan hampa bertakhta.
Itulah yang dirasakan sebagian besar peserta kajian yang diadakan RAGB (Remaja Anti Gaul Bebas), 9 November 2025 lalu. Kajian yang dihadiri puluhan remaja muslimah di Bandung itu mengangkat tema “Love Yourself: Biar Jadi Berkarakter Mulia.” Banyak peserta mengaku merasa hampa dengan rutinitas harian. Mereka jenuh dan membutuhkan dorongan untuk memperbaiki diri dan beramal salih.
Padahal, pemerintah telah menjalankan program PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) di sekolah-sekolah. Namun, moral pemuda masih jauh dari harapan. Ambil satu aspek saja: religius. Di sekolah, religius sering diartikan sebatas rutinitas ibadah: shalat Duha dan Zuhur berjemaah, doa pagi bersama, atau bersikap baik pada guru. Tanpa asas, semua itu hanya menjadi rutinitas, tidak menumbuhkan kesadaran.
Karakter pemuda semakin jauh dari impian. Sebuah skripsi tahun 2023 berjudul “Perubahan Gaya Hidup dan Perilaku Remaja di Era Digital (Studi pada Remaja Jamaras I, Mandalajati, Bandung)” menyebutkan bahwa remaja kini kecanduan gadget, meniru budaya asing, hedonis, serta mengalami perubahan perilaku dan interaksi sosial (digilib.uinsgd.ac.id/78691).
Selain itu, Dinas Kesehatan Jawa Barat pada 4 Juli 2025 melaporkan adanya 3.906 kasus baru HIV dan 1.035 kasus baru AIDS pada Januari–Mei 2025. Angka yang mengkhawatirkan untuk sebuah wilayah yang mayoritas masyarakatnya muslim.
Jika ditelaah lebih dalam, PPK tidak menyentuh akar masalah. Yang dilakukan sebatas pembiasaan, bukan penanaman makna. Ibadah dilakukan karena “memang begitu aturan yang baik”, bukan karena kesadaran bahwa Allah memerintahkan. Berbuat baik dilakukan karena “itulah karakter mulia”, bukan karena ia bagian dari ibadah yang bernilai akhirat.
Wajar saja gagal. Namanya juga sistem pendidikan sekular. Agama ditempatkan sebagai pengetahuan ibadah individu, bukan asas kehidupan. Sekularisme inilah akar yang membuat karakter pemuda semakin kabur.
Self Love yang Sebenarnya: Fondasi Karakter Mulia
Selama ini, self love sering dikaitkan dengan budaya Barat yang cenderung menjadikan manusia egois dan bebas menentukan standar kebaikannya sendiri. Wajar, karena berdiri di atas asas sekularisme. Self love identik dengan selfish.
Namun, self love yang dibahas pada kajian kali ini sangat berbeda. Self love dimaknai sebagai upaya mencintai diri dengan mengenal jati diri. Jati diri bukan diciptakan, tapi ditemukan. Dan saat tabirnya tersingkap, kita sadar: sejak awal Allah sudah menetapkan identitas kita, yaitu seorang hamba yang mulia dengan taat dan hina oleh maksiat.
QS. Al-‘Alaq ayat 1–2 mengajarkan kita untuk “membaca” dengan nama Allah. Membaca bukan hanya tulisan, tetapi juga ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran-Nya di dunia. Tubuh manusia menyimpan teknologi luar biasa yang tidak mungkin ada tanpa Pencipta. Dari situ, kita mengenal Allah sebagai al-Khaliq, Sang Pencipta yang Maha Agung.
Kemudian, peserta diajak merenungkan makna hidup. Manusia berlari di dunia sebenarnya untuk apa? Allah telah menjawab di QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Tujuan hidup manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Apapun peran kita (pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, aktivis), selama semuanya diarahkan untuk mencari rida Allah, kita berada di jalan yang benar.






