Seandainya Negeriku Dasarnya Al-Qur’an
Renungkanlah ayat berikut ini,
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan kecil.” (QS al Ma’un: 1-7)
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan cara yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap para hakim dengan harta itu untuk memakan sebagian dari harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. al Baqarah 188)
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mendorong memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baur (yang halal dan batil), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (al Fajr 17-20)
Makanya dalam Al-Qur’an, banyak digandengkan kewajiban shalat dengan zakat atau sedekah. Al-Qur’an mendorong manusia selain kewajiban ibadah kepada Allah, juga kewajiban untuk berbuat baik kepada manusia. Salah satunya dengan jalan memperbanyak sedekah atau membayar zakat.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“(Yaitu orang yang bertaqwa adalah) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. al Baqarah 3)
Ketika bersedekah, seorang Muslim dilarang untuk mengungkit-ungkit atau menyakiti hati penerimanya.
قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. al Baqarah 263)
Bersedekah mempunyai pahala yang sangat besar, baik di dunia maupun akhirat. Sedekah ini mendorong masyarakat menjadi dermawan, tidak kikir. Sedekah juga mendorong yang kaya mencintai kepada yang miskin, yang miskin mencintai kepada yang kaya.
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. al Baqarah 261)
Kapitalisme dan Sosialisme tidak punya konsep mendidik masyarakat menjadi dermawan. Kedua isme itu hanya membahas ‘struktur‘, tidak membahas bagaimana mendidik masyarakat agar saling tolong menolong dalam masalah harta atau lainnya.
Selain sedekah, masyarakat juga didorong untuk membayar zakat. Dalam masalah zakat ini aparat negara berhak untuk ‘memaksa‘ kepada rakyatnya yang kaya.
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doamu itu menenangkan jiwa mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. at Taubah 103)
Zakat atau sedekah ini mempunyai pengaruh kepada jiwa seseorang. Seorang yang rajin berzakat atau bersedekah, jiwanya menjadi lebih bersih (suci), daripada mereka yang malas berzakat atau bersedekah. Kata zakat (zaka) dalam bahasa Arab artinya bersih atau suci.
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا تُنذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya, tidak akan dipikulkan sedikit pun darinya, meskipun yang dipanggil itu kerabatnya. Sesungguhnya engkau hanya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang takut kepada Tuhannya (meskipun) tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali.” (QS. Fathir 18)






