NUIM HIDAYAT

Seandainya Negeriku Dasarnya Al-Qur’an

Al-Qur’an juga akan membuat keluarga menjadi hebat. Keluarga tanpa Al-Qur’an, banyak yang hancur. Suasana keluarga kering dan tidak kehidupan ruhaniyah yang menarik di sana. Keluarga yang diwarnai Al-Qur’an, maka suasanya menjadi syahdu. Al-Qur’an dibaca anggota keluarga itu di rumahnya, menjadikan para malaikat mengelilingi dan mendoakannya. Keluarga itu insya Allah menjadi Sakinah, mawaddah war rahmah. Tiap permasalahan dalam keluarga, dikembalikan kepada Al-Qur’an, bukan pada nafsu suami atau istri.

Keluarga itu dipimpin dan dibimbing Al-Qur’an. Sehingga orang tua mendidik anaknya dengan sepenuh hati. Sang anak hormat dan berbakti kepada orang tua, karena Al-Qur’an memerintahkannya. Sehingga dalam keluarga itu terjadi keharmonisan. Ketika menjadi tua, orang tua pun tidak khawatir akan ditelantarkan. Sebagaimana banyak terjadi di Barat, bapak atau ibunya yang sudah tua ditaruh di panti jompo, karena sang anak tidak mau mengurusnya.

Hubungan anak dan orang tua tidak hanya dalam kehidupan di dunia. Setelah meninggalpun sang anak dituntun Al-Qur’an untuk mendoakan orang tuanya atau bersedekah untuk orang tuanya.

Orang tua juga memperhatikan anaknya sejak dalam kandungan. Sang ibu selalu berdoa kepada Allah agar kelak anaknya menjadi anak yang shalih. Membacakan Al-Qur’an, memutarkan musik yang ‘slow‘, shalat dan berdoa kepada Allah untuk janin yang dikandungnya.

Setelah lahir sang anak diucapkan adzan oleh ayahnya di kedua telinganya. Dengan tujuan agar bayi nanti tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Swt yang menciptakannya. Bayi mendengar kalimat-kalimat yang mulia sejak ia pertama kali muncul ke bumi.

Masyarakat atau negara yang dituntun Al-Qur’an akan menjadi negara yang ‘baldatun thayibatun wa rabbun ghafur‘. Negara yang mulia dengan ampunan dari Yang Maha Kuasa.

Negara yang berdasarkan Al-Qur’an, maka negara itu menjadi kokoh. Aparat-aparat negara tidak rakus kepada uang negara/rakyat. Mereka mendahulukan kepentingan rakyat daripada dirinya.

Al-Qur’an menyatakan,

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga membutuhkan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al Hasyr 9)

Penyakit pejabat adalah kerakusan, baik terhadap jabatan maupun uang. Maka jangan heran banyak pejabat kita yang bermewah-mewah sementara jutaan rakyat dalam kemiskinan.

Bila negara dasarnya Al-Qur’an, maka ayat-ayat Al-Qur’an akan menjadi dasar bagi aparat negara dalam bersikap atau mengambil kebijakan. Karena Al-Qur’an tidak menjadi dasar negara, akhirnya para pejabat mengambil kebijakan sesuai hawa nafsunya. Mereka membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya pribadi, rakyat hanya terima sisa uang negara yang telah menjadi bancakan para pejabat sebelumnya.

Masalah harta ini adalah masalah yang sangat diperhatikan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an mengecam keras mereka yang menumpuk harta sedangkan rakyatnya dalam kelaparan/kemiskinan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button