#Piala Dunia 2026SPORTS

Sebut Timnas Prancis ‘Tak Punya Pemain Prancis’, Mantan PM Spanyol Dikecam Rasis

Para pemimpin politik di kedua negara mengecam Mariano Rajoy setelah ia menulis bahwa tim nasional Prancis "tidak memiliki pemain Prancis".

Celeste Amarilla sempat menyebut Mbappé sebagai: “Seorang Kamerun yang dijajah, yang mati-matian berusaha mengaku sebagai orang Prancis.”

Merespons hal itu, Roussel menyatakan: “Mereka tidak bisa berhenti melontarkan rasisme yang menjijikkan demi mencoba mengganggu tim nasional Prancis yang luar biasa.”

“Bukan Sekadar Keseleo Lidah”

Sejumlah tokoh lain menilai pernyataan rasis tersebut merupakan pola yang terus berulang. Menteri Prancis untuk Wilayah Seberang Laut, Naïma Moutchou, turut angkat bicara: “Obsesi dan hinaan rasis yang sama selalu muncul kembali setiap kali Prancis menang.”

“Ini bukan sekadar ‘keseleo lidah’. Ini adalah kebencian yang sistematis dan telah dinormalisasi terhadap Prancis dan terhadap apa yang diwakilinya.”

Moutchou juga meminta Federasi Sepak Bola Prancis untuk menempuh semua jalur hukum yang tersedia. Sebelumnya, federasi tersebut telah mengajukan pengaduan kepada jaksa di Paris atas komentar Amarilla.

Menutup unggahannya di X, Pedro Sánchez menyampaikan pesan yang bernada sportif menjelang laga semifinal kedua tim.

“Prancis, sampai jumpa di semifinal. Semoga tim terbaik yang menang, dan semoga rasisme yang kalah.” []

Mantan Perdana Menteri Spanyol dari Partai Konservatif, Mariano Rajoy, menghadapi gelombang tuduhan rasisme setelah menulis kolom Piala Dunia di sebuah surat kabar yang menyebut tim nasional Prancis “tidak memiliki pemain Prancis.”

Rajoy, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Spanyol periode 2011–2018, menyinggung laga semifinal antara Spanyol dan Prancis dalam artikel yang diterbitkan oleh surat kabar daring El Debate pada Jumat.

“Perlu diingat bahwa Prancis adalah juara dunia dua kali dan menjadi finalis pada Piala Dunia terakhir,” tulisnya. “Mereka memenangkan setiap pertandingan yang mereka jalani di Piala Dunia kali ini dan saat ini menempati peringkat pertama dalam ranking FIFA. Mereka juga memiliki skuad kelas dunia. Meski demikian, mereka tidak memiliki pemain Prancis. Dan mereka bermain sangat baik. Mereka akan menjadi lawan yang sangat tangguh.”

Pernyataan Rajoy ini memicu kecaman keras dari Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sánchez. Pernyataan tersebut dinilai mirip dengan serangan rasis di media sosial terhadap Kylian Mbappé oleh seorang senator Paraguay baru-baru ini.

“Masih ada orang yang mengukur rasa memiliki berdasarkan nama keluarga, tempat lahir, atau warna kulit,” tulis Pedro Sánchez dalam unggahannya di platform X.

“Sementara yang lain mengukurnya berdasarkan akar kita di sebuah negara dan kemauan kita untuk berkontribusi kepadanya. Bermain sepak bola. Merawat orang tua kita. Atau membuka usaha. Spanyol adalah milik mereka yang mencintainya dan bekerja untuknya. Bukan milik mereka yang mempermalukannya dengan pernyataan-pernyataan xenofobia.”

Kecaman dari Prancis

Ucapan Rajoy juga memicu kemarahan publik di Prancis.

“Itu sama sekali tidak dapat diterima,” kata Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, kepada stasiun televisi BFMTV pada Minggu.

“Itu sama sekali bukan gambaran tentang Prancis. Prancis adalah negara yang beragam, tempat setiap orang dapat berkembang dan menemukan tempatnya.”

Ketua Partai Sosialis Prancis, Olivier Faure, menegaskan bahwa tim nasional Prancis sepenuhnya terdiri dari warga negara Prancis.

“Prancis bukanlah bangsa yang didasarkan pada etnis; Prancis tidak memiliki warna kulit ataupun agama tertentu,” tulisnya di X.

“Prancis adalah bangsa politik yang dipersatukan oleh semboyan republik—sesuatu yang sangat dibenci oleh kelompok kanan rasis.”

Sementara itu, pemimpin Partai Komunis Prancis, Fabien Roussel, juga mengecam keras Rajoy. Menurutnya, pernyataan tersebut mengingatkan pada ocehan rasis senator Paraguay, Celeste Amarilla, yang sebelumnya menyerang Mbappé.

Celeste Amarilla sempat menyebut Mbappé sebagai:

“Seorang Kamerun yang dijajah, yang mati-matian berusaha mengaku sebagai orang Prancis.”

Merespons hal itu, Roussel menyatakan:

“Mereka tidak bisa berhenti melontarkan rasisme yang menjijikkan demi mencoba mengganggu tim nasional Prancis yang luar biasa.”

“Bukan Sekadar Keseleo Lidah”

Sejumlah tokoh lain menilai pernyataan rasis tersebut merupakan pola yang terus berulang.

Menteri Prancis untuk Wilayah Seberang Laut, Naïma Moutchou, turut angkat bicara:

“Obsesi dan hinaan rasis yang sama selalu muncul kembali setiap kali Prancis menang.”

“Ini bukan sekadar ‘keseleo lidah’. Ini adalah kebencian yang sistematis dan telah dinormalisasi terhadap Prancis dan terhadap apa yang diwakilinya.”

Moutchou juga meminta Federasi Sepak Bola Prancis untuk menempuh semua jalur hukum yang tersedia. Sebelumnya, federasi tersebut telah mengajukan pengaduan kepada jaksa di Paris atas komentar Amarilla.

Menutup unggahannya di X, Pedro Sánchez menyampaikan pesan yang bernada sportif menjelang laga semifinal kedua tim.

“Prancis, sampai jumpa di semifinal. Semoga tim terbaik yang menang, dan semoga rasisme yang kalah.” [Sam Jones di Madrid]

Sumber: The Guardian

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button