#Bebaskan PalestinaSUARA PEMBACA

Selama Entitas Israel Masih Eksis Penderitaan Palestina Tak Akan Berakhir

Pendudukan, pembantaian, dan krisis kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina tak kunjung usai. Dari serangan militer hingga pembatasan bantuan kemanusiaan, penderitaan rakyat Palestina terus bertambah setiap harinya. Sementara dunia internasional sekadar menyatakan keprihatinan tanpa solusi nyata.

Beberapa fakta nyata di lapangan terkait penjajahan Israel di Palestina terkini, yaitu:

Pertama, Israel melarang organisasi kemanusiaan beroperasi di wilayah Palestina

Pemerintah Israel telah mengambil keputusan kontroversial dengan melarang 37 organisasi kemanusiaan internasional untuk beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Jalur Gaza. Larangan ini diberlakukan karena Israel menuntut informasi detail mengenai warga Palestina yang menjadi staf organisasi internasional terkait. Langkah ini dipandang sebagai hambatan serius bagi bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina (replubika.co.id).

Palestina sendiri secara resmi mengutuk keputusan Israel tersebut. Palestina menyatakan bahwa organisasi-organisasi ini berperan penting dalam memberikan bantuan kesehatan, pangan, layanan darurat, serta perlindungan sipil di tengah agresi yang masih berlangsung.

Kedua, korban jiwa akibat agresi Israel sudah jutaan

Jumlah korban tewas akibat agresi militer Israel di Jalur Gaza terus meningkat secara dramatis. Menurut laporan kesehatan setempat, jumlah korban tewas akibat agresi Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai sekitar 71.269 orang, sementara ratusan ribu lainnya terluka. Mayoritas korban adalah warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak (www.antaranews.com).

Masalah ini diperparah oleh keterbatasan akses bantuan medis akibat larangan operasional organisasi kemanusiaan, blokade, serta penutupan akses wilayah oleh pasukan pendudukan.

Mengapa Penderitaan Ini Terus Berlanjut?

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan penderitaan Palestina terus berlanjut, yaitu:

Pertama, struktur Israel dan krisis strukturalnya

Penderitaan Palestina tidak lepas dari struktur ideologis dan politik negara Zionis Israel, yang sejak awal berdiri di atas perampasan tanah, pendudukan paksa, dan kekerasan sistematis terhadap warga Palestina. Israel beroperasi bukan sebagai entitas yang bermaksud damai, tetapi sebagai penjajah yang ingin mempertahankan dan memperluas kekuasaannya. Karena itu, sepanjang Israel tetap eksis, penderitaan rakyat Palestina tak akan berhenti.

Kedua, akses bantuan yang dihambat

Larangan terhadap puluhan organisasi kemanusiaan internasional berarti akses bantuan sangat terbatas. Bantuan bukan hanya soal pasokan barang, tetapi juga tentang layanan medis, perlindungan sipil, dan dukungan struktural lainnya yang menjadi kebutuhan dasar rakyat Gaza. Menyikapi hal ini dengan sekadar “prihatin” atau “kutukan” saja tidaklah cukup. Penderitaan tidak akan hilang dengan hanya retorika diplomatik.

Ketiga, solusi internasional gagal menjawab akar persoalan

Tawaran solusi yang dipimpin kekuatan besar seperti Amerika Serikat atau negara-negara Barat seringkali lebih menguntungkan Israel daripada rakyat Palestina. Penyelesaian politik yang hanya menekankan “dua negara” tetapi tidak menghentikan agresi militer, blokade, atau legitimasi pendudukan nyata tidak memerdekakan Palestina.

1 2Laman berikutnya
Back to top button