Siapkan Dana Besar, Israel akan Bangun 17 Permukiman Ilegal di Tepi Barat

Ekspansi Melampaui Garis Hijau: Ancaman Nyata terhadap Masa Depan Perdamaian
Rencana tersebut menunjukkan perluasan besar-besaran melampaui Garis Hijau, yang secara efektif mempercepat aneksasi de facto atas Tepi Barat. Ekspansi ini melibatkan pembangunan permukiman baru, jaringan jalan khusus pemukim, relokasi pangkalan militer, serta penguatan kendali administratif Israel atas wilayah yang ditargetkan.
Salah satu poin paling menonjol adalah alokasi 225 juta shekel untuk membentuk unit baru “pendaftaran tanah” Israel di Tepi Barat. Langkah ini dianggap sebagai tindakan paling berani dalam beberapa dekade karena akan mengalihkan seluruh sistem pendaftaran tanah dari administrasi sipil (pendaftaran Yordania) kepada unit baru tersebut setelah peta resmi diselesaikan.
Proyek ini bertujuan mengatur dan menyita 60.000 dunam tanah pada tahun 2030, memperkuat dominasi hukum dan administratif Israel atas wilayah-wilayah tersebut. Banyak pengamat meyakini langkah ini merupakan ancaman langsung bagi masa depan negara Palestina merdeka.
Media Israel Yediot Aharonot mencatat bahwa keputusan tersebut muncul dalam kerangka rencana pemerintah yang lebih luas untuk memperluas permukiman, meski menghadapi kritik tajam dari komunitas internasional yang menilai langkah Israel sebagai hambatan serius bagi proses perdamaian.
Relokasi Pangkalan Militer: Perubahan Strategis yang Mengkhawatirkan
Selain ekspansi permukiman, rencana tersebut juga mencakup relokasi tiga pangkalan militer ke wilayah Tepi Barat utara. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis mengembalikan pasukan Israel ke daerah yang sebelumnya ditinggalkan berdasarkan Perjanjian Oslo.
Wilayah permukiman Shanur menjadi fokus relokasi, di mana sebelumnya telah dievakuasi berdasarkan Undang-Undang Pelepasan. Laporan menunjukkan para pemukim berniat kembali ke lokasi itu sebelum pemilihan Knesset sebagai bagian dari upaya memperkuat keberadaan Yahudi di wilayah tersebut.
Markas Brigade Menashe rencananya akan dipindahkan dari pangkalan Ein Shemer ke wilayah Shanur, disertai relokasi dua pangkalan batalion lainnya. Langkah ini digambarkan sebagai “dramatis” dan menunjukkan intensi Israel memperkuat kontrol militer di wilayah yang telah lama menjadi sumber ketegangan dan penderitaan bagi warga Palestina.
sumber: infopalestina






