Sistem Pendidikan Antitoksik ala Islam
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hal ini maka khalifah atau kepala negara juga berkewajiban memastikan terlaksanakannya segala sistem terkait untuk menunjang berjalannya sistem pendidikan dengan baik, semisal sistem ekonomi yang juga berbasis syariah, kebijakan politik terkait pendidikan, gaji guru, pemerataan pembangunan, pengadaan fasilitas, sarana dan prasarana.
Negara tidak boleh menjadikan sistem pendidikan sebagai ajang komersialisasi atau membiarkan pihak swasta bermain pada wilayah yang menjadi kewajiban negara. Sebab masuknya pihak swasta dapat mengaburkan vidi pendidikan yang telah ditetapkan negara, dan sekali lagi bisa menjadi celah juga bagi ajang komersialisasinya.
Negara menyediakan pendidikan gratis, berkualitas, dan berorientasi pada pembentukan akidah dan kepribadian Islam, penguasaan tsaqafah Islam mendalam, hingga pemahaman dan penguasaan Iptek.
Negara berfokus pada pembentukan kepribadian Islam yakni pola pikir dan pola sikap Islam. Untuk membentuk pola pikir Islami, maka dilakukan penanaman tsaqafah Islam meliputi aqidah, pemikiran, serta mencari solusi kehidupan berdasarkan aqidah Islam. Adapun bentuk pola sikap dan perilaku Islami yakni standarisasi rasa suka-benci didasarkan pada aqidah Islam dan diterapkan dalam kehidupan. Inilah yang akan menjadi kompas moral generasi dan masyarakat dalam sistem kehidupan Islam.
Peserta didik juga akan mempelajari tsaqofah Islam seperti Bahasa Arab, fiqih, tafsir, hadits, sirah Nabi, sejarah Islam, dan lain sebagainya. Sistem pendidikan Islam akan mempersiapkan para ulama dalam setiap aspek kehidupan baik ilmu keislaman maupun ilmu terapan seperti: teknik, kimia, fisika, biologi, pertanian, kesehatan, peternakan, dan lain-lain.
Banyak contoh institusi pendidikan yang berdiri megah dengan berbagai khazanah keilmuannya pada masa keemasan peradaban Islam. Sebut saja, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Pada Sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian.
Madrasah an-Nuriah di Damaskus didirikan pada abad ke-6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.
Tokoh-tokoh ilmuwan muslim lahir dari sistem pendidikan Islam dan telah banyak berjasa pada dunia sains modern. Ibnu Hayyan, sebagai “Bapak Kimia Modern”, karena meletakkan dasar-dasar kimia eksperimental dengan mengembangkan berbagai teknik seperti destilasi, kristalisasi, dan sublimasi. Ia juga menemukan berbagai zat kimia penting, termasuk asam sulfat, Asam Nitrat dan Aqua Regia.
Ada pula Al-Khawarizmi, sebagai Bapak Aljabar, penemu angka nol, mengembangkan metode sistematis untuk menyelesaikan persamaan linier dan kuadrat. Al-Biruni, ia meletakkan dasar-dasar metode ilmiah modern di berbagai bidang ilmu seperti astronomi, geografi, dan fisika, serta menghitung keliling bumi dengan akurasi yang mengagumkan. Ilmuwan-ilmuwan ini menunjukkan bahwa berbagai percobaan mereka didukung oleh laboratorium “canggih” pada masa tersebut.
Tidaklah kita melihat pada penerapan sistem Tuhan ini melainkan dengan decak kagum luar biasa. Segala apa yang telah disampaikan bukan hanya konsep atau angan-angan semata. Namun, ia telah nyata mewujud dalam peradaban Islam yang membentang lebih dari 1300 tahun lamanya.
Sungguh, tidaklah eksis dan tidak akan pernah mewujud satu tata aturan sistem kehidupan yang lebih apik daripada Islam. Sebab ia telah Allah sempurnakan dan Allah ridhai sebagai jalan hidup kita, ciptaan-Nya. Wallahu a’lam bish shawab.[]
Muntik A. Hidayah, Koordinator BMIC Malang dan Pegiat Literasi





