Sukarela ke Surga, Memaksa Diri Terhindar dari Neraka
Manusia keadaannya lemah karena tak ada manusia dalam kehidupannya tak pernah merasakan sakit secara fisik. Manusia juga kadang dihinggapi lupa bahkan terhadap persitiwa yang baru beberapa jam dilaluinya.
Sekompleks apapun penciptaan manusia sudah diatur Sang Pencipta ada ‘kurang’ dalam fisiknya untuk menunjukkan keterbatasan diri. Misalnya mata yang terbatas tak mampu melihat sesuatu di balik penghalang. Telinga manusia juga sama. Gendang telinganya tak mampu mendekteksi suara berfrekuensi di bawah 20 Hz. Sebaliknya jika suaranya lebih dari 20.0000 Hz menyebabkan kerusakan gendang telinga, dan sebagainya.
Manusia juga membutuhkan selain dirinya. Membutuhkan asupan makanan dan minuman yang diperoleh dari selain dirinya. Apabila asupan tersebut tak tepenuhi akan menyebabkan kematian. Manusia membutuhkan cahaya matahari untuk mendapatkan oksigen dari tumbuhan untuk bisa bernapas.
Secara sosial tidak ada manusia yang mampu hidup dengan sendirinya. Pun sama dengan hewan, tumbuhan dan apapun yang ada disekitar alam kehidupan, dalam proses dan perkembangannya saling membutuhkan satu sama lainnya.
Terbatas, lemah, serba kurang dan membutuhkan selain pada dirinya, semua itu menunjukkan karakteristik makhluk (sesuatu yang diciptakan).
Al Khaliq (Sang Pencipta) tak mungkin secara rasionalitas memiliki karakteristik seperti makhluk. Sang Pencipta pasti berbeda dengan makhluk yang diciptakanNya. Dia tak berawal dan berakhir seperti makhluk dan tak mungkin terbatas kehidupannya. Dipastikan Dia bersifat azali. Pun keberadaan Dia tak tergantung pada apapun. Dipastikan Dia bersifat wajibul wujud. Dialah Allah SWT.
Pemikiran ini menumbuhkan kesadaran kuat bahwa manusia adalah hamba. Diciptakannya manusia oleh Allah di dunia pun bukan tanpa tujuan tapi memiliki misi agung. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (QS. Adz Zariyat ayat 56).
Para mufasir menjelaskan makna beribadah adalah taat pada Allah, tunduk patuh padaNya dan terikat pada syariat-Nya. Baik syariat Allah terkait hablumminallah (shalat, puasa, haji, zakat, dan sebagainya), hablum bin nafs (makanan, minuman dan pakaian) serta hablumminannas (politik, pendidikan, ekonomi, pergaulan, sosial, budaya, hukum dan sebagainya).
Ketaatan pada Allah tanpa Tapi dan Nanti.
Hamba yang senantiasa tafakkur pada tanda-tanda kekuasaan Allah memahami bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tanpa kesia-siaan. Kepastian setiap ciptaanNya disertai dengan aturanNya. Pada makhluk mati saja Allah membuat aturan terbaik tanpa sedikit pun menzalimi. Apatah lagi aturan untuk makhlukNya yang berakal seperti manusia. Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۚ وَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا ٤٠
Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi (seseorang) walaupun sebesar zarah. Jika (sesuatu yang sebesar zarah) itu berupa kebaikan, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya (QS. An Nisa ayat 40).






