Sukarela ke Surga, Memaksa Diri Terhindar dari Neraka
Hal inilah yang menjadikan muslim yang sadar dirinya hamba tak ragu menaati Allah. Tak ada kata tapi dalam menjalankan syariat Allah secara kaffah. Tak mencari-cari alasan dalam berbakti pada Allah.
Ya syariat Islam adalah kebutuhan dirinya untuk keselamatan dunia dan akhirat bukan untuk kepentingan Allah. Karena Allah tak butuh makhlukNya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا
Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. (HR. Muslim)
Pun kesadaran dirinya bahwa ajal senantiasa menjemputnya. Kesadaran dirinya bahwa kematian bukanlah akhir segalanya tapi awal kehidupan yang sebenarnya. Dalam hari-harinya ada pertanggungjawaban setiap amal. Yang akan bersaksi atas amal bukan hanya lisannya tapi hampir seluruh anggota tubuhnya. Tak ada yang dapat berdusta di dalam pengadilan Allah.
Ketakutan dirinya meninggal dalam keadaan tak taat Allah. Ketakutan dirinya meninggal dalam keadaan murkaNya. Dirinya merindukan surga sebagai tempat kembali yang abadi dengan naungan ridha Allah. Sehingga kemutlakan dirinya bersegera dalam mentaati Allah tanpa nanti.
Dan menjauhkan diri dari kemaksiatan karena hanya akan merugikan diri sendiri baik dunia maupun akhirat. Karena hidup bukan ajang untuk memperturutkan hawa nafsu dan ego diri. Tapi menghamba dan berbakti pada Ilahi Rabbi. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan.






