LAPORAN KHUSUS

Sumur-sumur Tua Pembantaian PKI

“Katanya ada partai di dunia, itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara. Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai. Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara.” (Sastrawan H. Taufiq Ismail)

Tiga hari sebelum Pemberontakan PKI atau yang sering disebut Gerakan 30 September/PKI meletus, terjadi dialog antara anggota Comite Central (Politbiro) Partai Komunis Indonesia Sudisman dengan Kapuspen Hankam/KOTI Brigjen Sugandhi, SH.

Sugandhi: “Man, ini ada apa kok di kampung-kampung ada persiapan dan pembuatan sumur?”
Sudisman: “Sudahlah, jij ikut kita saja!”
Sugandhi: “…Ndak bisa Man saya ikut PKI, karena saya punya agama.”
Sudisman: “..Kalau jij ndak mau, memang kamu sudah dicekoki Nasution.”
Sugandhi: “Bukan soal dicekoki tapi soalnya adalah ideologi. Tapi bila jij akan meneruskan rencanamu pasti kau akan digilas dan akan habis Man.”
Sudisman: “..ndak bisa, kita akan pegang inisiatif, siapa yang memulai dan pukul dulu itu yang menang, percayalah pada kita, semuanya sudah kita perhitungkan masa-masak.”

Dialog di atas, dikutip oleh Jenderal Besar AH Nasution dalam bukunya “Peristiwa 1 Oktober 1965, Kesaksian Jenderal Besar Dr AH Nasution.” Dialog yang terjadi pada 27 September ini merupakan salah satu dari sekian bukti yang diajukan oleh Nasution untuk membuktikan bila Presiden Sukarno secara de facto merestui atau bahkan membantu G 30 S/PKI.

Bukan soal Bung Karno yang akan diulas dalam tulisan ini, tetapi soal sumur. Ya, soal sumur. Karena ternyata bila ditengok ke belakang, pada pemberontakan PKI 1948 di Madiun, mereka juga membantai para kiai, santri serta orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh lalu dimasukkan ke dalam sumur-sumur tua. Enam jenderal TNI Angkatan Darat yang diculik pada 30 September malam pun pada akhirnya juga dibawa dan dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya.

Sumur tua di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Madiun Affair, tulis Taufiq Ismail dalam bukunya “Katastrofi Mendunia Marxisma Leninisma Stalinisma Maioisma Narkoba”, meletus dengan ditandai tiga kali letusan pistol pada Sabtu, 18 September 1948 pukul 03.00 dini hari.

“Kejadian itu terasa begitu mengerikan…beribu-ribu manusia dengan kelawang dan berbagai senjata memekik-mekik bagai serigala haus darah…mereka berduyun-duyun tak ada habisnya sambil terus memekik dan memaki-maki…kemudian menerjang dengan beringas dan penuh kebencian…”

Para kiai dan santri menjadi musuh utama PKI dan sasaran pembantaian mereka. Kalangan ini dianggap sebagai penentang dan penghalang tujuan-tujuan politik yang hendak mereka capai. Selain karena sebab utama, sebagai ideologi sampai kapanpun Komunisme akan bertentangan dengan Islam.

Dalam waktu singkat, pemberontakan PKI di Madiun telah menyebar dan mampu menguasai sejumlah wilayah di sekitarnya. Magetan sebagai wilayah terdekat, langsung jatuh ke tangan PKI. Dan pembantaian biadab yang dilakukan PKI terhadap santri dan kiai di Magetan ini menjadi catatan tak terlupakan dalam perjalanan umat Islam dan bangsa Indonesia.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button