Tanpa Makna, Hidup Mau ke Mana?
Di sinilah akar karakter mulia tumbuh: muslim beramal salih bukan untuk dilihat manusia, tetapi untuk mengejar rida Allah. Rutinitas harian tidak lagi terasa hampa, melainkan bagian dari ibadah pada Sang Pencipta.
Di akhir sesi, peserta kembali diingatkan bahwa kehidupan dunia ini sementara. Setiap manusia akan kembali kepada Allah dengan membawa pertanggungjawaban (QS. Al-Mulk ayat 2). Amal saleh bernilai pahala, sedangkan maksiat bernilai dosa. Akumulasi amal itulah yang akan menentukan perjalanan kita menuju kehidupan sejati: surga atau neraka.
Para peserta tampak sangat antusias hingga terlontar lima pertanyaan dalam sesi tanya jawab. Ini menandakan bahwa materi menyentuh hati dan relevan dengan pergulatan mereka.
Tidak Bisa Tumbuh dari Kekosongan
Pada akhirnya, karakter mulia tidak akan lahir dari rutinitas tanpa makna. Tidak juga dari semboyan, kurikulum, atau program yang tidak menyentuh akar. Ia hanya lahir ketika seorang pemuda mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia kembali.
Tanpa makna, hidup hanya berputar di tempat yang sama. Dengan makna, setiap langkah menjadi ibadah, dan setiap hari menjadi peluang menjadi lebih dekat dengan Allah.
Akhir kata, pertanyaan sama bagi kita semua adalah: Hidup yang kita jalani sekarang, sudah menuju ke mana? []
Keni Rahayu, Aktivis Muslimah Bandung.






