MUDA

Self Love dalam Islam: Menemukan Diri sebagai Hamba Allah

Keni Rahayu, Penulis Buku Self Love Asyik tanpa Toksik.

Apa yang ada di benakmu ketika dengar kata “Ramadan?”, paling gak jauh dari ngabuburit, war takjil, bukber, i’tikaf, tarawih bareng bestie. Seru banget ya Ramadan itu.

Namun jika direnungkan lebih dalam, ternyata Ramadan adalah salah satu bukti cinta Allah kepada kita, hamba-Nya. Di bulan ini Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya, melipatgandakan pahala, memudahkan jalan menuju kebaikan, dan memberi kesempatan kepada manusia untuk kembali kepada-Nya. Banyak sekali bahasa cinta Allah yang sering kita alpa, salah satunya adalah Ramadan.

Jika Ramadan adalah bukti cinta dari Allah, maka pertanyaannya adalah: bagaimana cara kita membalas cinta itu? Salah satu jawabannya adalah dengan mencintai diri kita dengan cara yang benar. Anak-anak zaman now sering menyebut dengan istilah self love.

Faktanya, bagi seorang muslim, self love tidak boleh berdiri di atas ego atau sekadar mengikuti tren. Self love harus berakar pada Islam, yaitu cara mencintai diri yang sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam buku “Self Love Asyik tanpa Toksik” (karya Keni Rahayu) dijelaskan bahwa mencintai diri bukan berarti kita bebas menentukan siapa diri kita sesuka hati. Justru manusia menemukan jati dirinya ketika ia memahami hakikat penciptaannya. “Kita tidak menentukan diri sendiri, tetapi menemukannya”. Dan ketika ditemukan, ternyata hakikat kita adalah hamba Allah.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa sebelum manusia lahir ke dunia, kita pernah berjanji kepada Allah. Dalam QS. Al-A’raf ayat 172 Allah menyebutkan bahwa Dia mengambil kesaksian dari anak cucu Adam dan bertanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan manusia menjawab, “Benar, kami bersaksi (Engkau Tuhanku).” Ayat ini menunjukkan bahwa dalam fitrah terdalam manusia sebenarnya sudah tertanam pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan kita.

Karena itu, perjalanan hidup manusia sebenarnya adalah perjalanan untuk kembali mengingat perjanjian tersebut. Allah juga mengajarkan manusia cara membaca kehidupan melalui wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1 Allah berfirman, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Lalu pada ayat berikutnya Allah menjelaskan, “Dia telah menciptakan manusia.” Artinya, ketika manusia membaca kehidupan dengan menyebut nama Allah, ia akan menemukan jawaban tentang siapa dirinya. Dan jawabannya sederhana: kita adalah makhluk ciptaan Allah.

Setelah memahami siapa diri kita, langkah berikutnya adalah memahami untuk apa kita hidup. Dunia sering menawarkan berbagai tujuan hidup: popularitas, harta, gaya hidup, atau pengakuan manusia. Namun Allah sebenarnya sudah memberikan petunjuk yang sangat jelas. Dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 Allah berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Ayat ini memberi arah hidup yang sangat kuat. Kita tidak perlu selalu mengikuti apa yang sedang viral atau merasa tertinggal dari orang lain. Dunia boleh saja menawarkan banyak hal: gawai terbaru, tren media sosial, atau standar kesuksesan tertentu. Namun seorang muslim punya kompas yang berbeda.

Pertanyaannya bukan sekadar “apakah ini keren?” tetapi “apakah ini mendekatkan saya kepada rida Allah?” Inilah yang disebut self guidance dalam Islam, yaitu membimbing diri dengan petunjuk Allah, bukan semata-mata tuntutan tren atau keinginan sesaat.

Namun perjalanan hidup tidak berhenti di situ. Ada satu kesadaran penting yang sering dilupakan manusia, yaitu self responsibility. Manusia (apalagi muslim) seharusnya menyadari bahwa hidup ini akan dipertanggungjawabkan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button