INTERNASIONAL

Terungkap, Zionis Israel Andalkan Cloud Microsoft untuk Pengawasan Besar-besaran Warga Palestina

Ternyata militer Israel menjalankan proyek ambisius untuk menyimpan rekaman panggilan telepon warga Palestina di server Microsoft di Eropa

Setelah terungkap pada Januari bahwa Israel sangat bergantung pada teknologi Microsoft dalam perang di Gaza, perusahaan tersebut melakukan tinjauan eksternal. Hasilnya, Microsoft menyatakan belum menemukan bukti bahwa Azure atau produk AI mereka digunakan untuk “menargetkan atau menyakiti orang” di wilayah tersebut.

Namun, sumber dari Unit 8200 menyatakan bahwa data dari panggilan telepon di Azure telah digunakan untuk meneliti dan mengidentifikasi target serangan bom di Gaza.

Satu sumber mengatakan, saat merencanakan serangan udara terhadap seseorang di daerah padat penduduk, petugas akan menggunakan sistem cloud untuk memeriksa percakapan orang-orang di sekitar lokasi.

Penggunaan sistem ini meningkat selama kampanye di Gaza, yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 60.000 orang, mayoritas warga sipil, termasuk lebih dari 18.000 anak-anak.

Awalnya fokus di Tepi Barat

Namun, fokus awal sistem ini adalah Tepi Barat, di mana sekitar 3 juta warga Palestina hidup di bawah pendudukan militer Israel. Sumber Unit 8200 mengatakan informasi di Azure menjadi sumber intelijen yang sangat berharga yang kadang digunakan untuk memeras, menahan, atau bahkan membenarkan pembunuhan seseorang.

“Kalau mereka butuh menangkap seseorang tapi tidak punya alasan cukup kuat, di sinilah mereka mencari alasannya,” kata salah satu sumber.

Juru bicara Microsoft mengatakan mereka tidak memiliki informasi mengenai jenis data yang disimpan Unit 8200 dan menyatakan keterlibatan mereka hanya untuk penguatan keamanan siber dan perlindungan terhadap serangan siber dari negara lain atau teroris.

‘Melacak semua orang, sepanjang waktu’

Pemrakarsa utama proyek cloud ini — digambarkan sebagai “revolusi” dalam unit — adalah Yossi Sariel, komandan Unit 8200 dari awal 2021 hingga akhir 2024. Setelah gelombang serangan “lone wolf” oleh remaja Palestina pada 2015, Sariel memperluas cakupan intersepsi komunikasi.

Pendekatannya adalah mulai “melacak semua orang, sepanjang waktu,” kata seorang petugas. Ia beralih dari pengawasan target spesifik ke pengawasan massal dan menggunakan metode AI baru untuk mengekstrak wawasan.

Salah satu sistem yang dikembangkan saat itu, menurut sumber, memindai semua pesan teks antar warga Palestina di Tepi Barat dan memberikan skor risiko secara otomatis jika berisi kata-kata mencurigakan, seperti membahas senjata atau keinginan untuk mati.

Dukungan Microsoft

Saat Sariel menjadi komandan, dia mendorong kerja sama dengan Microsoft agar Unit 8200 bisa menangkap dan menganalisis isi jutaan panggilan setiap hari.

Dalam pertemuannya dengan Nadella, Sariel disebut tidak secara eksplisit menyebut penyimpanan rekaman telepon Palestina, melainkan hanya menyebut “pekerjaan rahasia sensitif”.

Namun, dokumen menunjukkan insinyur Microsoft memahami bahwa data tersebut termasuk intelijen mentah seperti rekaman audio, dan beberapa staf Microsoft di Israel — termasuk alumni Unit 8200 — menyadari tujuan proyek ini.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button