Terungkap, Zionis Israel Andalkan Cloud Microsoft untuk Pengawasan Besar-besaran Warga Palestina
Ternyata militer Israel menjalankan proyek ambisius untuk menyimpan rekaman panggilan telepon warga Palestina di server Microsoft di Eropa
Salah satu sumber mengatakan: “Tidak perlu jadi jenius untuk menyadarinya. Kamu bilang ke Microsoft bahwa kami kehabisan ruang server dan ini file audio. Sudah jelas.”
Microsoft: ‘Kami tidak tahu’
Juru bicara Microsoft mengatakan: “Kami tidak tahu Azure digunakan untuk menyimpan data semacam itu.” Mereka menyatakan bahwa Unit 8200 hanyalah pelanggan biasa dari layanan cloud mereka dan Microsoft “tidak membangun atau berkonsultasi dengan Unit 8200” soal sistem pengawasan ini.
Namun, pada awal 2022, insinyur Microsoft dan Unit 8200 bekerja erat untuk membangun sistem keamanan di Azure sesuai standar militer. “Interaksi dengan unit ini bersifat harian, dari atas ke bawah,” kata salah satu dokumen internal.
Proyek ini dirahasiakan di kalangan staf Microsoft dan nama Unit 8200 tidak boleh disebut. Berdasarkan dokumen, pada Juli tahun ini, sekitar 11.500 terabyte data militer Israel — setara sekitar 200 juta jam audio — tersimpan di server Azure di Belanda, sebagian di Irlandia.
‘Solusi atas masalah kami’
Beberapa bulan sebelum bertemu Nadella, Sariel menerbitkan buku tentang AI dengan nama pena, mendorong militer agar “migrasi ke cloud”.
Ia dikenal di kalangan intelijen Israel sebagai penggemar teknologi dan mengaku memiliki hubungan akrab dengan Nadella. (Microsoft membantah adanya hubungan dekat antara keduanya.)
“Sariel menjual proyek ini ke dalam dan mendapatkan anggaran besar,” kata mantan rekan kerjanya. “Ia menyebutnya sebagai solusi atas masalah kami di arena Palestina.”
IDF mengatakan kerja sama mereka dengan perusahaan seperti Microsoft “berdasarkan perjanjian yang diawasi secara hukum”. Mereka menambahkan: “IDF beroperasi sesuai hukum internasional untuk melawan terorisme dan menjaga keamanan negara serta warganya.”
Setelah publikasi, IDF mengeluarkan pernyataan baru: “Kami menghargai dukungan Microsoft dalam perlindungan keamanan siber. Kami tegaskan bahwa Microsoft tidak bekerja dan belum pernah bekerja dengan IDF untuk penyimpanan atau pemrosesan data.”
Nilai komersial dan pemanfaatan dalam perang
Microsoft sendiri melihat kerja sama ini sebagai peluang bisnis besar. Eksekutif memperkirakan pendapatan ratusan juta dolar dan menyebut proyek ini sebagai “momen merek yang sangat kuat” untuk Azure.
Pada 2022, Unit 8200 mulai memanfaatkan cloud Azure, dan petugas intelijen segera menyadari kekuatan sistem baru ini. “Cloud itu penyimpanan tak terbatas,” kata salah satu sumber.
Panggilan — termasuk ke nomor internasional dan Israel — biasanya disimpan selama sekitar sebulan, tapi bisa diperpanjang sesuai kebutuhan. Sistem ini memungkinkan petugas untuk mengambil ulang percakapan seseorang yang baru belakangan dianggap sebagai ancaman.
Beberapa sumber mengatakan sistem ini telah mencegah serangan mematikan terhadap warga Israel. Namun, sistem ini gagal mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan hampir 1.200 orang dan menyandera 240 orang di Israel selatan.






