#Gencatan SenjataINTERNASIONAL

Tiga Bulan Gencatan Senjata, Bagaimana Kondisi Kemanusiaan di Gaza?

Saat ini, tidak ada wilayah di Jalur Gaza yang dikategorikan mengalami kelaparan, menurut analisis dari berbagai organisasi dan lembaga. Namun, organisasi PBB memperingatkan kemajuan ini “tetap sangat rapuh” karena warga Gaza masih terus bergumul dengan kerusakan besar pada infrastruktur serta hancurnya mata pencaharian dan produksi pangan.

“Pencapaian ini sangat rapuh, sangat berbahaya,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Desember lalu. “Dan 1,6 juta orang di Gaza, atau setara lebih dari 75 persen populasi, diperkirakan akan menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang ekstrem dan risiko malanutrisi kritis.”

Pengiriman bantuan masih tidak memadai dan dibatasi. Selama periode 10 Oktober hingga 16 Desember, sekitar 9.000 ton pasokan bantuan ditolak otoritas Israel untuk masuk ke Gaza, menurut laporan OCHA.

“Di tahun baru ini, kami berharap … harga-harga akan kembali seperti sebelum perang, dan orang-orang dapat kembali membeli kebutuhan sehari-hari mereka di mal seperti biasa, seperti di negara-negara lain,” kata Amir Salah, seorang pedagang di Gaza City, kepada Xinhua.

Dampak Perang

Konflik tersebut telah meninggalkan tantangan yang sangat besar bagi warga Gaza, termasuk bahan peledak yang tidak meledak (unexploded ordnance/UXO). Pada 18 Desember, tiga insiden ledakan bahan peledak menimbulkan korban di Jalur Gaza, menurut OCHA.

Pertempuran sengit antara pejuang Hamas dan pasukan Israel, serta perangkat peledak yang dipasang oleh kedua belah pihak, telah menyebabkan level kontaminasi yang “sangat parah,” kata Julius Van Der Walt, kepala Program Aksi Penanggulangan Ranjau PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki.

Mohammed al-Shafea, seorang anak laki-laki Palestina di Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa keluarganya mendirikan tenda di kota tersebut setelah terpaksa mengungsi ke wilayah selatan Jalur Gaza.

Kaki kirinya dibalut perban, dan punggungnya dipenuhi bekas luka. Seraya menunjuk ke area tidak jauh dari tenda, dia berkata, “Kami sedang bermain di sana ketika tiba-tiba meledak, dan kami terlempar ke segala arah.”

“Kami perlu memasak sesuatu, jadi kami mulai mencari kayu dan nilon untuk menyalakan api. Kami mengangkat sesuatu, dan itu meledak,” imbuhnya.

Sang ibu mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya karena sisa-sisa amunisi perang. “Kami tidak tahu apa yang ada di bawah reruntuhan,” katanya.

Tantangan lain yang dihadapi adalah pengelolaan sampah padat. Sejak Oktober 2023, diperkirakan kerusakan pada sistem pengelolaan sampah padat dan medis mencapai 66 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.853), menurut laporan OCHA.

Di seluruh Jalur Gaza, anak-anak terlihat berlarian di antara tumpukan sampah, bahkan banyak yang bermain di atasnya. Ketika hujan turun, air limbah meluap dari tumpukan sampah itu. Para ahli medis memperingatkan hal ini dapat meningkatkan risiko kesehatan dan mempercepat penyebaran penyakit.[]

sumber: XINHUA

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button