Tipu Daya Alpha Woman
Fenomena alpha woman atau alpha female tengah menjadi simbol perempuan yang ideal di era modern saat ini. Karakter yang kuat, dominan, dan mandiri secara ekonomi digambarkan sebagai puncak pencapaian bagi setiap perempuan yang ingin dianggap sukses di mata dunia.
Fenomena ini sejatinya bak apel beracun yang dibalut dengan madu. Sebab, jika ditelisik lebih dalam, konsep ini sebenarnya merupakan bagian dari agenda kesetaraan gender yang diusung oleh sistem kapitalisme global. Tujuannya bukan sekadar pemberdayaan, melainkan upaya sistematis untuk menarik perempuan ke dalam pusaran mesin ekonomi demi mendongkrak PDB.
Paradigma kapitalisme nyata mendudukkan perempuan sebagai aset ekonomi yang potensial. Dengan narasi kemandirian finansial, perempuan kerap didorong untuk keluar rumah dan bekerja keras. Akhirnya, tidak sedikit perempuan mengabaikan fitrahnya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah tangga.
Eksploitasi pada perempuan ini sering kali dibungkus dengan slogan-slogan manis tentang kebebasan dan hak asasi. Padahal, realitanya banyak perempuan yang terjebak dalam beban ganda, kelelahan fisik yang luar biasa, hingga menjadi korban konsumerisme dan gaya hidup hedonistik.
Dampak dari obsesi pada “kemandirian” ini pun mulai terasa pada rapuhnya institusi keluarga. Anak-anak kehilangan figur ibu yang mendidik, sedangkan tren seperti childfree mulai mengancam keberlangsungan generasi akibat cara pandang yang materialistis.
Argumen bahwa kepemimpinan perempuan di parlemen akan menyelesaikan masalah perempuan pun dinilai sebagai fatamorgana. Faktanya, selama sistem yang digunakan masih beraroma sekuler-kapitalistik, kebijakan yang lahir tetap tidak akan mampu menyentuh akar persoalan kemiskinan dan ketidakadilan yang menimpa perempuan.
Dalam pandangan Islam, perempuan dan laki-laki memang setara sebagai hamba Allah Swt yang memiliki akal dan perasaan. Sebagai agama yang paripurna, Islam mrngatur pembagian peran laki-laki dan perempuan secara proporsional dan selaras dengan fitrah manusia demi terciptanya tatanan sosial yang harmonis.
Kemuliaan seorang perempuan dalam Islam tidak diukur dari jabatan politik atau besarnya gaji, melainkan dari tingkat ketakwaannya. Islam memposisikan perempuan sebagai ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) yang merupakan pilar peradaban.
Negara dalam naungan sistem Islam memiliki kewajiban menjamin kebutuhan pokok setiap perempuan melalui struktur nafkah yang berlapis. Mulai dari suami, wali, hingga negara, semuanya bertanggung jawab agar perempuan tidak terpaksa memikul beban nafkah sendirian.
Bekerja bagi muslimah hukumnya adalah mubah atau pilihan, bukan kewajiban untuk bertahan hidup. Jika ia berkarya di sektor publik sebagai guru atau dokter, tujuannya adalah mendedikasikan ilmu untuk kemaslahatan umat, bukan karena eksploitasi ekonomi.
Muslimah tidak perlu mengejar predikat “independen” ala Barat yang justru menjauhkan dirinya dari aturan Sang Pencipta. Kepribadian islami (syakhshiyah Islamiyah) yang melekat pada setiap Muslim adalah identitas hakiki yang memberikan ketenangan batin dan kejelasan arah hidup bagi kaum Muslim, termasuk bagi perempuan.
Jelas, sudah saatnya perempuan kembali pada aturan Allah Swt yang sempurna dan komprehensif. Hanya dengan menjalankan perannya sesuai syariat, perempuan dapat meraih kemuliaan yang sejati, menjaga keutuhan keluarga, dan melahirkan generasi emas bagi peradaban masa depan. Wallahu’Alam bissawab.[]
Jannatu Naflah, Ibu dan Praktisi Pendidikan






