RESONANSI

Transformasi Sosial Puasa Arafah di Era Digital

Teologi Hijau di Samping Altar Kurban

Dimensi puasa Arafah tidak berhenti pada urusan ibadah ritual dan kesalehan sosial personal semata, melainkan meluas hingga menyentuh kepedulian terhadap kelestarian alam semesta. Malik, seorang aktivis lingkungan, memandang bahwa spiritualitas Islam modern harus mampu menjawab krisis ekologi yang sedang melanda bumi.

Kesadaran untuk menjaga lingkungan ini kemudian coba diintegrasikan dengan persiapan perayaan Iduladha yang jatuh keesokan harinya. Malik bersama komunitasnya mulai mengedukasi masyarakat mengenai konsep kurban hijau, sebuah gerakan untuk meminimalkan dampak lingkungan negatif dari aktivitas penyembelihan hewan kurban.

Langkah nyata dari gagasan teologi hijau ini diwujudkan secara aktif oleh Zainab dan Hafsah di lingkungan masjid tempat mereka mengabdi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya pembagian daging kurban selalu identik dengan gunungan kantong plastik sekali pakai, tahun ini mereka berdua melakukan terobosan besar.

Zainab menghabiskan waktu berhari-hari sebelum hari Arafah untuk berkoordinasi dengan warga agar membawa wadah sendiri dari rumah saat mengambil hak daging mereka. Sementara itu, Hafsah sibuk mengumpulkan besek bambu dan daun jati sebagai alternatif pembungkus alami yang ramah lingkungan dan mudah terurai oleh tanah.

Bagi mereka, merawat bumi adalah bagian tidak terpisahkan dari iman dan bentuk syukur atas kelimpahan berkah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Di sebuah pinggiran kota yang padat penduduk, Asni memandang langit sore yang mulai memerah dengan penuh rasa syukur.

Solidaritas tanpa Batas dari Pinggiran Kota

Sebagai seorang guru honorer, ia tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk membeli hewan kurban sendiri tahun ini. Namun, Asni tidak merasa berkecil hati.

Puasa Arafah yang ia jalani memberikan keyakinan spiritual bahwa dirinya tetap menjadi bagian dari solidaritas global umat Muslim yang sedang merayakan ketaatan kepada Allah Swt. Di dapur rumahnya yang sederhana, ia sibuk menyiapkan hidangan berbuka puasa seadanya untuk keluarga, sembari melantunkan doa-doa terbaik untuk kedamaian dunia dan keselamatan umat manusia di berbagai belahan bumi yang sedang dilanda konflik.

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang dari pengeras suara masjid terdekat, Amir, Ali, Mukhtar, Zaki, Malik, Aisyah, Mahmudah, Zainab, Hafsah, dan Asni melepaskan rasa dahaga mereka dengan segelas air putih. Ritual fisik berpuasa mungkin telah usai seiring tenggelamnya matahari di hari Arafah itu.

Namun, bagi mereka semua, esensi dan nilai-nilai yang lahir dari ibadah tersebut baru saja dimulai. Perwujudan puasa Arafah dalam kehidupan sehari-hari bukanlah sebuah peristiwa satu hari yang berlalu begitu saja, melainkan sebuah transformasi kesadaran yang terus hidup dalam setiap jengkal langkah, keputusan, dan interaksi sosial mereka di tengah tantangan dunia modern yang kian kompleks.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button