RESONANSI

Transformasi Sosial Puasa Arafah di Era Digital

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat ketika Amir meletakkan telepon genggamnya di atas meja kayu sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan.

Wajahnya tampak lelah, bukan hanya karena menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar, melainkan karena pertempuran batin yang berkecamuk di dalam dadanya. Hari itu adalah tanggal 9 Zulhijah.

Di belahan bumi lain, jutaan jemaah haji sedang berkumpul dalam kepasrahan total di Padang Arafah. Di hadapan cangkir kopi yang kosong, Amir menyadari bahwa puasa Arafah yang sedang dijalankannya tidak lagi sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib, melainkan sebuah ujian berat untuk mengendalikan jempolnya dari godaan riuh rendah dunia maya.

Bagi generasi Muslim urban, tantangan terbesar spiritualitas modern sering kali tidak datang dari sepiring nasi atau segelas air dingin di siang hari yang terik. Musuh nyata itu kerap kali bersembunyi di balik layar gawai yang menyala dua puluh empat jam sehari.

Di sudut meja lain, Ali, seorang pemuda yang aktif di komunitas literasi digital, mengamini kegelisahan tersebut. Menurutnya, jika puasa Arafah secara tradisional dimaknai sebagai momentum peleburan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, maka dalam konteks kekinian, pembersihan tersebut harus dimulai dari rekam jejak digital kita sendiri.

Hijrah Digital di Hari Ampunan

Menghapus dosa di masa lalu, bagi Ali, kini memiliki wujud konkret berupa keberanian untuk menghapus unggahan masa lalu yang penuh kebencian, menghentikan penyebaran berita bohong, serta keluar dari grup percakapan yang hanya menjadi wadah gibah dan mencela orang lain. Di tempat berbeda, Aisyah memilih untuk menginstal aplikasi pembatas waktu layar pada ponselnya sejak fajar menyingsing.

Baginya, menahan diri dari godaan untuk berkomentar sinis di media sosial atau sekadar mengintip kehidupan pribadi orang lain di platform berbagi video pendek adalah esensi utama dari pengendalian diri. Aisyah merasa bahwa kesucian hari Arafah akan ternoda jika jempolnya masih aktif memproduksi energi negatif di ruang digital yang kian beracun.

Transformasi spiritual ini juga dirasakan oleh Mukhtar, seorang kurator konten paruh waktu. Ia melihat bahwa esensi wukuf di Arafah—di mana semua manusia berdiri setara tanpa atribut kekayaan atau jabatan—harus direfleksikan dalam cara Muslim modern berinteraksi di internet.

Di dunia maya, manusia sering kali terjebak dalam lingkaran kesombongan, saling pamer pencapaian, dan merendahkan mereka yang berbeda pandangan. Melalui momentum puasa ini, Mukhtar mencoba membangun kesadaran baru untuk memperlakukan setiap orang di ruang siber dengan rasa hormat yang sama, meruntuhkan sekat-sekat ego kelompok yang sering memicu perpecahan di masyarakat.

Mengetuk Pintu Langit Melalui Layar Gawai

Di sudut kota yang lain, kemajuan teknologi justru menjadi jembatan bagi gerakan filantropi yang lebih bermakna. Zaki, seorang pemrogram muda, memanfaatkan momen puasa Arafah untuk menggalang dana melalui platform donasi digital.

Ia teringat akan makna kepedulian sosial yang melekat pada bulan suci ini. Menahan lapar selama belasan jam memantik rasa empati Zaki terhadap jutaan orang di luar sana yang harus menghadapi kelaparan setiap hari bukan karena berpuasa, melainkan karena kemiskinan yang mencekik.

Bersama teman-temannya, Zaki berhasil mengumpulkan donasi dalam hitungan jam untuk disalurkan kepada komunitas marjinal yang membutuhkan bantuan pangan. Gerakan serupa juga digerakkan oleh Mahmudah, seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam organisasi sosial di lingkungannya.

Bagi Mahmudah, puasa Arafah menjadi alarm pengingat untuk tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang sering kali dipicu oleh algoritma belanja daring. Menjelang hari raya Iduladha, iklan diskon besar-besaran biasanya membanjiri layar ponsel.

Namun, dengan berpuasa, Mahmudah melatih dirinya untuk membedakan antara kebutuhan esensial dan keinginan sesaat. Uang yang biasanya dialokasikan untuk belanja pakaian baru atau dekorasi rumah yang tidak mendesak dialihkannya untuk menambah porsi sedekah dan membantu tetangga sekitar yang kesulitan membeli bahan pangan pokok.

1 2Laman berikutnya
Back to top button