Trump, Netanyahu dan Islam
Trump juga menyerang Sadiq Khan, walikota London yang beragama Islam, dengan kata-kata yang mengandung nada rasis: “He’s done a terrible job as mayor, he’s been very rude to the President of the United States. He’s a disaster.” [Dia melakukan pekerjaan yang buruk sebagai walikota, sangat tidak sopan kepada Presiden Amerika Serikat. Dia bencana]
Meski tampak personal, pernyataan Trump mengandung muatan simbolik: seorang Muslim dalam posisi kekuasaan dianggap tidak pantas memimpin kota global seperti London.
Hamas yang merupakan pejuang kemerdekaan Palestina, dicap Trump dan pejabat AS sebagai organisasi teroris (Foreign Terrorist Organization). Dalam pidatonya di PBB 23 September 2025 lalu, Trump menyatakan, “Unfortunately, Hamas has repeatedly rejected reasonable offers to make peace … The rewards would be too great for Hamas terrorists for their atrocities. This would be a reward for these horrible atrocities, including October 7th, even while they refuse to release the hostages or accept a ceasefire …”
[Sayangnya, Hamas berkali-kali menolak tawaran-tawaran wajar untuk berdamai … Hadiah yang akan diberikan akan terlalu besar bagi teroris Hamas atas kejahatan-kejahatan mereka. Ini akan menjadi hadiah atas kejahatan-kejahatan mengerikan ini, termasuk yang terjadi pada 7 Oktober, meskipun mereka menolak membebaskan sandera atau menerima gencatan senjata …”]
Maka tidak heran, di dalam masalah Palestina, Trump ingin menyingkirkan Hamas dari pemerintahan Palestina mendatang. Bagi Trump, Hamas adalah kanker yang harus dilenyapkan.
Netanyahu dan Narasi “Islam Radikal”
Sebagaimana Donald Trump, PM israel Benjamin Netanyahu juga menganggap Hamas adalah teroris. Dalam pidatonya di PBB, Netanyahu menyatakan, “Hamas is ISIS, and ISIS is Hamas. They share the same fanatical creed.” [Hamas adalah ISIS, dan ISIS adalah Hamas. Mereka memiliki keyakinan fanatik yang sama]
Pernyataan ini merupakan bagian dari strategi lama Israel untuk menghapus legitimasi politik perjuangan Palestina. Dengan menyamakan Hamas dengan ISIS, Netanyahu berusaha menggiring opini publik internasional bahwa konflik di Gaza bukan masalah kolonialisme, melainkan “perang melawan teror”.
Netanyahu juga sering menegaskan bahwa perang Israel bukan terhadap umat Islam, melainkan terhadap “Islam radikal”. Namun, istilah ini sering menjadi pembenaran untuk serangan terhadap warga sipil Muslim Palestina. Dalam wawancara pada 2023, Netanyahu mengatakan: “We are fighting a religious war. It’s not about territory anymore, it’s about ideology.” [Kita sedang berperang dalam perang agama. Ini bukan lagi soal wilayah, melainkan ideologi]
Dengan menggeser fokus dari masalah pendudukan ke “ideologi Islam radikal”, Netanyahu melegitimasi kekerasan struktural sebagai bagian dari pertahanan eksistensial Israel.
Netanyahu juga menyatakan, “We also have a September 11. We remember October 7. … We also have a September 11 … We remember October 7. On that day, Islamist terrorists committed the worst savagery against the Jewish people since the Holocaust…We have always known what Hamas is. Now the whole world knows. Hamas is ISIS.”
[Kita juga punya 11 September. Kita ingat 7 Oktober. … Pada hari itu, teroris Islam melakukan kebrutalan terburuk terhadap bangsa Yahudi sejak Holocaust. … Kita selalu tahu siapa Hamas. Sekarang seluruh dunia tahu. Hamas itu ISIS]
Ia juga menyatakan, “We target Hamas terrorists … when these terrorists embed themselves in civilian areas, when they use civilians as human shields.”






