NUIM HIDAYAT

Trump, Netanyahu dan Islam

[Kami menargetkan teroris Hamas … ketika para teroris itu bersembunyi di wilayah sipil, ketika mereka menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia]


Trump dan Netanyahu tidak berdiri sendiri. Retorika mereka memiliki akar panjang dalam orientalisme Barat, sebagaimana dikritik Edward Said (1978). Dalam pandangan orientalis klasik seperti Bernard Lewis, Islam selalu dilihat sebagai the other — lawan dari modernitas, rasionalitas, dan kebebasan Barat.

Lewis pernah menulis dalam The Atlantic (1990): “Islam is not only a religion; it is a political ideology that seeks domination.” [Islam bukan hanya agama; ia adalah ideologi politik yang mencari dominasi]

Narasi semacam ini terus hidup dan digunakan oleh politisi seperti Trump dan Netanyahu untuk melegitimasi kebijakan anti-Muslim dan pro-kolonial. Orientalisme modern tidak lagi berbentuk penelitian akademik, tetapi tampil dalam bentuk propaganda politik dan media.

Dampak politik kebencian terhadap Islam ini kini bersifat global. Di Eropa, partai-partai kanan ekstrem seperti National Rally di Prancis dan AfD di Jerman mengadopsi retorika yang mirip dengan Trump. Sementara di dunia Arab, beberapa rezim otoriter menggunakan narasi “anti-terorisme Islam” untuk membungkam oposisi Islamis.

Namun, gelombang perlawanan terhadap Islamofobia juga meningkat. Politisi seperti Zohran Mamdani, Ilhan Omar, dan Rashida Tlaib menjadi simbol generasi baru yang menantang narasi dominan. Mamdani mengatakan: “When we speak for Palestinian freedom, we’re not anti-Semitic. We’re anti-apartheid.” [Ketika kami berbicara untuk kebebasan Palestina, kami bukan anti-Yahudi. Kami menentang apartheid]

Lewis juga menyatakan, “Islam is not only a religion but also a political ideology which must inevitably clash with the West.” [Islam bukan hanya agama, tetapi juga ideologi politik yang pada akhirnya pasti akan berbenturan dengan Barat]

Ilmuwan Daniel Pipes juga menyatakan, “Militant Islam is the problem; moderate Islam is the solution.” [Islam militan adalah masalah; Islam moderat adalah solusinya]

Begitu juga ilmuwan Elie Kedourie. Ia menyatakan, “Islamic civilization is inherently incapable of modernization.” [Peradaban Islam secara inheren tidak mampu untuk melakukan modernisasi]

Cara Barat memandang Islam ini dikritik keras oleh banyak ilmuwan Amerika sendiri. Diantaranya oleh ilmuwan politik Fawaz Gerges. Ia menyatakan, “The West has constructed an image of Islam as an inherently violent civilization, while ignoring its internal debates, self-criticism, and movements for reform.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button