Ulama di Balik Hari Santri: Antara Spirit Jihad dan Romantika Nasionalisme
“Santri kini identik dengan moderasi, bukan konservatisme,” kata Ahmad Zuhri, seorang pengamat pendidikan Islam di Semarang. “Hari Santri membuka ruang bagi transformasi citra itu.”
Selain itu, momentum Hari Santri juga menjadi wadah memperkuat semangat kebangsaan di tengah ancaman polarisasi politik. Di pesantren, nilai cinta tanah air diajarkan seiring dengan pelajaran tauhid dan fiqih. “Patriotisme bukan barang impor,” ujar Maimun. “Ia tumbuh dari langgar dan serambi masjid.”
Minus: Antara Seremoni dan Substansi
Namun, tak semua sepakat Hari Santri sudah berada di jalur yang benar. Di beberapa daerah, peringatan ini justru bergeser menjadi ajang seremonial. Para pejabat datang berbaris mengenakan sarung baru, kamera berdesak-desakan, sementara pesan moral Resolusi Jihad memudar di balik baliho besar bertuliskan slogan politik.
“Kadang saya sedih melihatnya,” kata Kiai Thariq dalam nada getir. “Hari Santri semestinya menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar festival.”
Kritik serupa datang dari kalangan akademisi. Mereka menilai pemerintah belum memberikan perhatian nyata terhadap kesejahteraan pesantren. Akses pendidikan tinggi bagi santri masih terbatas, dana operasional minim, dan banyak pesantren di pelosok bertahan dengan fasilitas seadanya.
“Kalau negara betul ingin menghormati santri, jangan berhenti di kalender,” ujar Zuhri. “Berikan mereka kesempatan setara dalam pembangunan, teknologi, dan literasi.”
Jihad Zaman Kini
Menjelang malam 22 Oktober, di beberapa pesantren di Jawa Timur, para santri berkumpul menggelar doa bersama. Suara mereka berbaur dengan gemericik air hujan yang turun pelan. Di hadapan mereka, bendera merah putih berkibar, dikelilingi lampu minyak yang berkelip.
Malam 22 Oktober itu, Zuhri menghadiri acara doa bersama di sebuah pesantren di Gresik, salah seorang kyai menyampaikan wejangan, “Santri zaman sekarang tak lagi berperang dengan bambu runcing,” ujar sang Kyai di hadapan murid-muridnya. “Tapi jihad mereka tetap sama: melawan kebodohan, kemiskinan, dan korupsi.”
Menurut Zuhri, Hari Santri adalah pengingat bahwa perjuangan tak pernah benar-benar usai. Resolusi Jihad telah bertransformasi dari panggilan angkat senjata menjadi seruan moral untuk menjaga kejujuran, akhlak, dan keutuhan bangsa.
“Selama semangat itu hidup,” katanya sambil menatap langit malam yang mulai cerah, “Hari Santri bukan sekadar peringatan, tapi napas panjang dari sejarah yang tak lekang.”[]
Muhibbullah Azfa Manik





