UNDP: Rekonstruksi Gaza Butuh Dana Hingga 70 Miliar USD
Jenewa (SI Online) – Rekonstruksi Jalur Gaza diperkirakan membutuhkan pendanaan sebesar 70 miliar dolar AS (setara dengan sekitar Rp1.085 triliun).
Hal itu dikatakan Perwakilan Khusus Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) untuk Bantuan kepada Rakyat Palestina, Jaco Cilliers, Selasa (14/10/2025).
Cilliers menambahkan, UNDP belum dapat memperkirakan jangka waktu pembangunan kembali wilayah tersebut karena sangat bergantung pada jumlah dana yang diterima. Namun dia memperingatkan bahwa proses itu bisa memakan waktu “berdekade-dekade.”
Menurut perkiraan UNDP, sedikitnya 50 juta ton puing harus disingkirkan di seluruh Gaza. Kemudian, kata dia, kemungkinan masih terdapat jenazah warga Palestina yang tertimbun di bawah reruntuhan.
Hamas: Kerugian di Gaza Capai 70 Miliar USD
Angka 70 miliar USD ini hampir sama dengan keterangan yang disampaikan Hamas mengenai total kerugian yang diderita Gaza akibat genosida Israel.
Pada Jumat (10/10) lalu, Hamas menyebut kerugian langsung di sektor-sektor vital di Jalur Gaza telah melampaui 70 miliar dolar AS.
Ismail al-Thawabta, direktur kantor media tersebut, mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa perang telah mengakibatkan kerusakan yang luas pada infrastruktur sipil, serta pada sektor kesehatan, pendidikan, perumahan, dan layanan publik.
Sejak 7 Oktober 2023, sekitar 77.000 orang tewas atau hilang, termasuk lebih dari 67.000 kematian yang terkonfirmasi di rumah-rumah sakit, dan sekitar 170.000 lainnya luka-luka, kata al-Thawabta.
Ia menambahkan bahwa lebih dari 6.700 warga Palestina, termasuk tenaga kesehatan dan pekerja media, masih ditahan di penjara-penjara Israel.
Dia menambahkan bahwa setidaknya 38 rumah sakit dan puluhan pusat kesehatan serta ambulans hancur, menyebabkan apa yang dia gambarkan sebagai “keruntuhan total” pada sektor kesehatan.
Di sektor pendidikan, sekitar 670 sekolah dan 165 universitas dan institusi pendidikan rusak, sementara lebih dari 13.500 pelajar, 830 guru, dan 190 akademisi tewas, ungkap pejabat itu.
Di sektor perumahan, al-Thawabta mengatakan sekitar 300.000 unit rumah hancur total dan 200.000 lainnya rusak berat atau rusak sebagian, menyebabkan sekitar 2 juta orang terpaksa mengungsi. Sebagian besar di antaranya kini tinggal di tenda-tenda tanpa kebutuhan dasar yang memadai.
Blokade yang diberlakukan di Gaza juga menyebabkan apa yang disebutnya sebagai “krisis kelaparan yang parah”, karena perlintasan ke Gaza ditutup selama lebih dari 600 hari, sehingga menghambat masuknya ratusan ribu truk yang mengangkut bantuan dan barang kebutuhan.
Al-Thawabta mengatakan sekitar 460 orang meninggal akibat kelaparan dan malanutrisi, sementara 2.600 orang lainnya tewas saat mencoba mendapatkan bantuan kemanusiaan.[]






