Urgensi Tabayun di Era Disrupsi Informasi
b. Pentingnya Menghargai Kepakaran (Kompetensi)
Di era semua orang bisa bicara, kita sering lupa bahwa ada orang-orang yang memang ahlinya. Al-Qur’an mengarahkan kita untuk mengembalikan informasi kepada Rasul dan Ulul Amri (pakar). Artinya, untuk urusan kesehatan tanyalah dokter, untuk urusan agama tanyalah ulama yang kredibel, bukan sekadar percaya pada utas (thread) anonim yang belum jelas sumbernya.
c. Menjadi “Saringan” Bukan “Corong”
Jadilah pribadi yang menghentikan hoaks di tanganmu. Jika kita menerima berita yang mencurigakan atau berpotensi memicu kegaduhan, cukup berhenti di kita saja. Jangan menjadi corong yang memperluas jangkauan berita buruk tersebut. Ingat, satu kali klik share bisa berdampak pada ribuan orang.
d. Kesehatan Mental di Ruang Digital
Mengikuti setiap rumor dan kegaduhan hanya akan membuat pikiran kita lelah. Dengan menerapkan prinsip tabayun (verifikasi) dan tidak reaktif terhadap setiap isu, kita sebenarnya sedang menjaga ketenangan batin kita sendiri. Al-Qur’an menginginkan kita hidup dalam lingkungan sosial yang stabil dan penuh rasa aman, bukan lingkungan yang penuh curiga akibat kabar burung.
Penutup
Berdasarkan penelusuran mendalam terhadap QS. An-Nisa: 83, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an telah memberikan kerangka kerja yang sangat visioner dalam manajemen informasi jauh sebelum era digital dimulai.
Analisis terhadap sabab nuzul menunjukkan bahwa perilaku terburu-buru dalam menyebarkan berita ulbaik yang bersifat domestik maupun strategis hanya akan melahirkan kegaduhan sistemik di tengah masyarakat.
Melalui kacamata para mufassir, kita diingatkan bahwa proses verifikasi bukan sekadar urusan teknis, melainkan sebuah tanggung jawab moral dan spiritual yang melibatkan psikologi massa, validitas data,
Di era disrupsi informasi saat ini, pesan ayat ini menjadi sangat krusial bagi kita sebagai warga digital. Prinsip istinbat atau analisis mendalam adalah kunci untuk memutus mata rantai hoaks yang kian masif. Menjadi pribadi yang literat menurut Al-Qur’an berarti memiliki kemampuan untuk menahan diri dari godaan viralitas dan memilih untuk mengembalikan setiap informasi kepada ahlinya.
Dengan menerapkan etika komunikasi ini, kita tidak hanya menjaga diri dari dosa fitnah, tetapi juga berkontribusi dalam merawat kewarasan publik dan kedamaian di ruang siber. Literasi digital, pada akhirnya, adalah wujud nyata dari ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menjaga kebenaran di tengah samudera informasi yang penuh ketidakpastian.[]
*Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta.





