QUR'AN-HADITS

Urgensi Tabayun di Era Disrupsi Informasi

Aspek metodologi verifikasi dibahas secara teknis oleh Wahbah az-Zuhaili dalam “Tafsir Al-Munir.” Az-Zuhaili membedah diksi “yastambitunahu” yang secara etimologis bermakna “mengeluarkan air dari dasar sumur”.

Filosofi ini mengajarkan bahwa untuk memahami sebuah informasi, seseorang tidak boleh hanya berhenti pada permukaan kulit atau sekadar membaca judul (klikbait). Diperlukan proses “penggalian” yang melibatkan deduksi, analisis mendalam, dan pengecekan silang.

Az-Zuhaili menegaskan bahwa otoritas informasi mutlak harus dikembalikan kepada Ulul Amri, yang dalam konteks literasi digital bisa dimaknai sebagai para pakar, ahli di bidangnya, atau institusi resmi yang memiliki perangkat validasi data. Hal ini bertujuan agar informasi yang sampai ke masyarakat telah teruji kemaslahatannya dan bebas dari unsur mudarat yang destruktif.

Lalu Ahmad Mushthafa Al-Maraghi dalam “Tafsir Al-Maraghi” memberikan tinjauan dari perspektif etika ketatanegaraan dan ketahanan nasional.

Al-Maraghi mengklasifikasikan informasi menjadi dua kategori besar: berita keamanan (al-amni) yang bisa membawa euforia berlebihan, dan berita ketakutan (al-khauf) yang bisa meruntuhkan mentalitas bangsa.

Al-Maraghi berpendapat bahwa penyebaran berita ketakutan secara prematur adalah strategi yang sering digunakan musuh untuk melemahkan barisan internal umat. Oleh karena itu, beliau menawarkan solusi berupa penguatan kedisiplinan individu.

Masyarakat harus dididik untuk memiliki self-censorship atau kemampuan mengerem diri agar tidak reaktif terhadap kabar burung sebelum ada pernyataan resmi yang kredibel. Kedewasaan dalam mengelola informasi inilah yang menjadi kunci kedaulatan sebuah masyarakat di tengah arus fitnah.

Hikmah dan Pelajaran Penting

Setelah mengupas tuntas pesan mendalam dari Surah An-Nisa: 83, melalui kacamata para mufassir, kita menyadari bahwa ayat ini adalah sebuah teguran sekaligus panduan etika yang sangat personal.

Di tengah riuhnya notifikasi dan arus konten yang tak ada habisnya, ayat ini seolah mengajak kita untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi diri. Terutama saat jempol kita sudah merasa “gatal” dan godaan untuk menjadi yang pertama menyebarkan sesuatu begitu kuat, Al-Qur’an menawarkan sebuah standar moral yang melampaui sekadar kecepatan jempol.

Berikut beberapa point penting dari hikmah dan pelajaran yang dapat diambil, antara lain:

a. Seni menahan diri ditengah FOMO (Fear of missing Out)

Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa menjadi yang paling cepat membagikan berita bukanlah sebuah prestasi jika berita itu ternyata palsu. Dalam ayat ini, kita diajak untuk punya “rem” internal. Sebelum klik share, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah berita ini sudah pasti benar? Jika benar, apakah bermanfaat jika disebarkan sekarang?

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button