RESONANSI

Yahudi, Bangsa Pembangkang yang Terusir

Konflik berkepanjangan yang terjadi di tanah yang diberkahi, Baitul Maqdis (Palestina), telah tercatat demikian panjang dalam catatan sejarah. Mengapa konflik ini tak kunjung reda?

Tentu hal ini harus dipahami oleh semua pihak terkait awal mula dan sejarah panjang antara Bangsa Yahudi dengan tanah Palestina itu sendiri. Dengan memahami latar belakang dan akar masalahnya, maka setiap orang tentu akan dapat mendudukkan permasalahan ini pada tempat yang semestinya.

Dalam lintasan sejarah dahulu dikisahkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as mengajak kaumnya yakni Bani Israil meninggalkan Mesir. Kala itu mereka harus menyelamatkan diri dari kejaran Raja Firaun dan bala tentaranya. Dengan mukjizat dari Allah, Nabi Musa membelah Laut Merah dengan pukulan tongkatnya dan mengajak Kaum Bani Israil menyeberanginya. Mereka selamat sampai ke seberang laut, sedangkan Firaun dan bala tentaranya mati tenggelam di Laut Merah tersebut.

Sayangnya di negeri yang baru, Bani Israil tergoda oleh sekelompok orang yang menyembah berhala. Samiri kemudian berhasil membuat Bani Israil menyembah patung anak sapi dari emas. Itu terjadi saat Nabi Musa pergi meninggalkan Bani Israil untuk bermunajat kepada Allah di Bukit Sinai. Saat kembali dari Bukit Sinai, Nabi Musa murka mendapati Bani Israil meninggalkan penyembahan kepada Allah. Saat itu juga Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk bertobat dan meninggalkan penyembahan kepada patung anak sapi.

Alkisah pernah pula terjadi Bani Israil merengek kepada Nabi Musa agar bisa melihat Allah secara langsung. Namun, saat keinginan mereka dikabulkan Allah, mereka mati seketika karena kekuatan pancaran sinar yang Allah kirimkan. Tak cukup sampai di situ kedegilan Bani Israil. Mereka kemudian tidak bersyukur atas rezeki dari Allah berupa manna dan salwa. Mereka malah menginginkan makanan masyarakat Mesir seperti sayur-sayuran, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah. Padahal dahulunya saat tinggal di Mesir mereka hidup dalam kehinaan dan penindasan.

Setelah tampak kembali kedegilan Bani Israil pada peristiwa yang berujung pada perintah menyembelih sapi betina, Allah memerintahkan Nabi Musa, Nabi Harun dan Bani Israil untuk pergi ke wilayah Baitul Maqdis (Palestina). Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat al-Maidah ayat 21 yang artinya: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagi kalian, dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian menjadi orang-orang yang merugi.”

Pada ayat di atas diceritakan bahwa Nabi Musa menyuruh Bani Israil untuk berjihad dan memasuki Baitul Maqdis (tanah suci), yang dahulunya merupakan milik mereka di masa kakek moyang mereka (Nabi Ya’qub as). Namun, kenyataannya mereka mendapati di dalam Kota Baitul Maqdis tinggal satu kaum yang kuat, bertubuh besar lagi perkasa. Seketika timbul rasa takut karena sifat pengecut mereka pada kaum yang gagah perkasa itu. Mereka lalu mencari-cari alasan untuk tidak masuk ke kota tersebut. Ini seperti yang Allah beritakan di Surah al-Maidah ayat 22, yang artinya: “Mereka berkata. ‘Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka telah keluar darinya, pasti kami akan memasukinya’.”

Saat muncul rasa takut di benak Bani Israil, datanglah dorongan semangat yang dikobarkan oleh dua orang laki-laki sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT di Surat al-Maidah ayat 23. Arti ayat tersebut, “Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, ‘Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu! Bila kalian memasukinya, niscaya kalian akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman’.”

Namun dengan sifat membangkangnya, Bani Israil tetap bergeming. Mereka tidak termotivasi sedikitpun untuk berjihad dan masuk ke Baitul Maqdis. Mereka malah menyuruh Nabi Musa saja yang berjihad bersama dengan Allah. “Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu; dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja!” (Surah al-Maidah ayat 24).

Dengan pembangkangan dan sifat keras kepalanya, Allah lalu menurunkan hukuman bagi Bani Israil. Mereka dihukum berupa tersesat di padang pasir selama 40 tahun. Mereka tidak tahu arah tujuan dan tidak tahu di mana mereka berada. Terkait hal ini Allah berfirman, “Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” Allah berfirman, “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (Padang Tih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Surat al-Maidah: 25-26).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengisahkan bahwa Bani Israil kemudian tersesat selama 40 tahun lamanya. Mereka tidak bisa memasuki Baitul Maqdis, Palestina sama sekali. Di masa itu pula banyak orang dari Bani Israil yang meninggal dunia. Nabi Harun kemudian wafat dan disusul dengan wafatnya Nabi Musa. Sementara keturunan Bani Israil yang menitiskan sifat membangkang terus-menerus membuat berbagai macam keonaran yang menimbulkan masalah bagi banyak orang.

Saat ini sebagian keturunan dari Bani Israil masa lampau lebih dikenal dengan nama bangsa Yahudi (Zionis). Lintasan sejarah mencatat mereka terbukti sungguh-sungguh hidup terlunta-lunta tanpa tanah air selama 900 tahun. Hingga pada tahun 1860 lahirlah seorang Yahudi berkebangsaan Hungaria yang kelak dikenal sebagai Bapak Zionis. Namanya Theodore Herzl. Ia menulis buku yang kemudian menjadi sangat terkenal yaitu Der Judenstaat (Negara Yahudi) pada 1896. Herzl bermimpi ingin mengembalikan kejayaan Kerajaan Yehuda (Yahudi).

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button