2.842 Warga Palestina di Jalur Gaza Hilang tanpa Jejak
Senjata bersuhu ekstrem
Sejumlah pakar militer yang diwawancarai dalam investigasi tersebut mengaitkan kasus hilangnya korban dengan penggunaan sistematis senjata termobarik dan termal oleh Israel, yang kerap disebut sebagai bom vakum atau bom aerosol.
Pakar militer Rusia, Vasily Fatigarov, menjelaskan bahwa senjata semacam itu menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian menyala menjadi bola api besar, menghasilkan suhu dan tekanan ekstrem.
“Untuk memperpanjang waktu pembakaran, bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia,” kata Fatigarov. Ia menambahkan bahwa hal itu dapat meningkatkan suhu ledakan hingga antara 2.500 sampai 3.000 derajat Celsius.
Laporan tersebut menyebutkan efek serupa juga dihasilkan oleh tritonal, campuran TNT dan bubuk aluminium yang digunakan dalam sejumlah bom buatan Amerika Serikat.
Jenis amunisi yang teridentifikasi
Investigasi itu mengidentifikasi sejumlah amunisi yang digunakan di Gaza, termasuk bom MK-84 buatan AS, bom penghancur bunker BLU-109, dan bom luncur presisi GBU-39.
Menurut laporan tersebut, GBU-39 digunakan dalam serangan di Sekolah al-Tabin. Fatigarov mengatakan senjata itu dirancang agar struktur bangunan relatif tetap utuh, namun menghancurkan seluruh bagian dalam melalui gelombang tekanan dan panas.
Basal menyebut tim Pertahanan Sipil menemukan fragmen yang sesuai dengan komponen GBU-39 di sejumlah lokasi serangan di mana jenazah tidak dapat ditemukan.
“GBU-39 dirancang untuk menjaga struktur bangunan relatif tetap utuh, tetapi menghancurkan semua yang ada di dalamnya,” ujar Fatigarov. “Senjata ini membunuh melalui gelombang tekanan yang merobek paru-paru serta gelombang panas yang membakar jaringan lunak.”
Investigasi itu juga menyebut penggunaan bom penghancur bunker BLU-109 dalam serangan Israel di al-Mawasi, wilayah yang sebelumnya dinyatakan Israel sebagai zona aman bagi warga Palestina yang mengungsi pada September 2024. Laporan tersebut menyatakan bom itu menyebabkan 22 orang “menguap”.
Bom tersebut memiliki selubung baja dan sumbu tunda, sehingga menembus tanah atau bangunan sebelum meledak dengan campuran bahan peledak PBXN-109, menciptakan bola api besar di ruang tertutup dan membakar segala sesuatu dalam jangkauannya.
Selain itu, laporan tersebut juga menyinggung bom MK-84 “Hammer”, bom tanpa pemandu seberat sekitar 900 kilogram yang diisi tritonal dan mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celsius.
Penjelasan medis
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir al-Bursh, menjelaskan dampak biologis dari senjata tersebut. Ia menyebut tubuh manusia terdiri atas sekitar 80 persen air.






