#Bebaskan PalestinaLAPSUS

2.842 Warga Palestina di Jalur Gaza Hilang tanpa Jejak

“Titik didih air adalah 100 derajat Celsius,” kata al-Bursh.

“Ketika tubuh terpapar energi lebih dari 3.000 derajat disertai tekanan dan oksidasi masif, cairan tubuh langsung mendidih. Jaringan menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, hal itu tak terhindarkan.”

Implikasi hukum

Pakar hukum yang dikutip dalam investigasi tersebut menyatakan penggunaan senjata yang tidak mampu membedakan antara warga sipil dan kombatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.

Pengacara Diana Buttu, dosen di Georgetown University di Qatar, mengatakan tanggung jawab tidak hanya berhenti pada Israel.

“Ini adalah genosida global, bukan hanya genosida Israel,” ujarnya, seraya berpendapat bahwa pengiriman senjata secara berkelanjutan oleh pemasok asing menunjukkan adanya keterlibatan.

“Kita melihat aliran senjata ini terus berlangsung dari Amerika Serikat dan Eropa. Mereka tahu senjata ini tidak membedakan antara petempur dan anak-anak, tetapi tetap mengirimkannya.”

Ia menambahkan bahwa hukum internasional melarang penggunaan senjata yang tidak dapat membedakan antara warga sipil dan kombatan.

Akuntabilitas dipertanyakan

Investigasi itu menyebut temuan tersebut muncul meski Mahkamah Internasional pada Januari 2024 telah memerintahkan langkah sementara agar Israel mencegah tindakan genosida.

Selain itu, Mahkamah Pidana Internasional pada November 2024 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu.

Guru besar hukum internasional Tariq Shandab menilai sistem peradilan internasional telah gagal dalam ujian Gaza.

“Blokade terhadap obat-obatan dan makanan itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya. Ia menambahkan bahwa prinsip yurisdiksi universal di pengadilan negara lain dapat menjadi jalur hukum alternatif jika ada kemauan politik.

Bagi keluarga korban, definisi hukum tidak menghapus duka. Rafiq Badran, yang kehilangan empat anaknya dalam serangan Israel di kamp pengungsi Bureij, mengatakan ia hanya menemukan fragmen untuk dimakamkan.

“Empat anak saya menguap begitu saja,” katanya kepada Al Jazeera. “Saya mencarinya berkali-kali. Tidak ada satu potong pun yang tersisa. Ke mana mereka pergi?”

Sumber: Anadolu

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button