Julaibib: Pelajaran tentang Keikhlasan Hati dan Kepekaan Sosial
Rasulullah Saw baru saja selesai menguburkan beberapa orang syuhada yang gugur. Terpancar kepenatan dari wajah dan pakaian beliau yang penuh debu.
“Kalian kehilangan siapa saja?”, Rasulullah bertanya. Para sahabat menjawab fulan bin fulan. Rasulullah kembali bertanya , “Lalu siapa lagi?”. Mereka menjawab : “Fulan bin fulan”. Rasulullah terus bertanya nama-nama yang gugur dalam perang sampai kemudian para sahabat menjawab : “Kami sudah menyebutkan semua yang kami ketahui wahai Rasulullah”.
Lalu Rasulullah kembali bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sahabat kalian?”.
Para sahabat mulai cemas dengan pertanyaan Rasulullah yang berulang, khawatir ada yang terlewatkan dalam daftar syuhada yang gugur di medan perang. Mereka terdiam. Lalu Rasulullah melanjutkan: “Aku kehilangan Julaibib, carilah dimana dia”.
Tersentak sejenak, baru kemudian mereka teringat dengan seorang sahabat yang bernama Julaibib. Semuanya bergegas melaksanakan perintah nabi untuk mencari Julaibib. Lalu siapakah Julaibib ini?
Diceritakan beliau adalah sahabat yang masuk Islam di masa awal Rasulullah berhijrah ke Madinah. Tidak diketahui secara detail nama kabilah atau asal suku beliau, walaupun ada riwayat yang menyebutkan beliau berasal dari bani Aslam.
Namun tentangnya, Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam pada masa itu sampai-sampai berkata, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk berada di antara kalian! Demi Allah jika ia berani berbuat begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!” demikianlah gambaran keadaan Julaibib kala itu. Ia sering tersisih karena keadaannya yang tidak diterima.
Julaibib digambarkan sebagai orang yang berperawakan kurus, pendek, hitam serta tidak memiliki daya tarik fisik sama sekali. Ia juga bukan berasal dari golongan bangsawan atau kaya raya. Sederet prestise duniawi yang tak dimilikinya, tidak membuat Julaibib minder serta absen dari keutamaan ibadah dan perjuangan dakwah. Julaibib selalu berusaha berada di sekitar Rasulullah Saw untuk meraih keutamaan menjadi yang paling awal melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasul Saw ketika wahyu turun.
Tidak banyak fragmen kehidupan Julaibib yang dicatat oleh para ahli sejarah, karena kisah tentang beliau memang sangat sedikit. Ibarat permata yang tersembunyi di dasar lautan, keindahannya baru membuat decak kagum setelah tersingkap ke permukaan. Keutamaan Julaibib baru diketahui setelah Rasulullah begitu kehilangannya sampai menyuruh para sahabat untuk mencari jenazahnya.
Sejatinya Julaibib memang tidak terlalu menonjol dalam hal yang dapat dindera oleh standar kehidupan manusia. Beliau bukanlah seorang yang memiliki fisik rupawan seperti selayakya orang yang menjadi pusat perhatian. Beliau juga bukan bangsawan yang kehadirannya selalu dinanti dan dielu-elukan. Beliau juga bukan seorang kaya yang membuat orang berlomba-lomba untuk berdekatan. Beliau juga bukan seorang cendekia yang dikerumuni untuk didengar fatwanya. Beliau hanya seorang yang sederhana dengan akhlak yang sangat mulia.
Namun pada hari kematiannya, para sahabat menyadari tentang keutamaannya yang selama ini tanpa sadar sering mereka sepelekan. Orang yang sampai ditanyakan oleh nabi berkali-kali tentang dirinya tentu bukanlah orang sembarangan.
Orang yang namanya terus terngiang dalam hati dan pikiran nabi sang manusia terbaik pastinya memiliki kedududukan yang sangat mulia. Dan hal ini terkonfirmasi setelah para sahabat menemukan jenazah Julaibib. Di sekeliling jasadnya tergeletak tujuh jasad orang kafir. Rupanya sebelum menemui kesyahidan, Julaibib telah berhasil membunuh tujuh orang pasukan kafir.





