Relasi Pendidikan Keluarga dan Sekolah [Bagian 5-Akhir]
Relasi Pendidikan Keluarga dan Sekolah: Saling Melengkapi
Relasi antara pendidikan keluarga dan pendidikan sekolah bersifat saling melengkapi dan timbal balik. Pendidikan keluarga berperan penting dalam membentuk kepribadian dan identitas diri peserta didik sebagai hamba Allah.
Pembentukan ini menjadi dasar utama bagi anak untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Peserta didik perlu memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah yang memiliki tugas dan tujuan hidup untuk beribadah hanya kepada-Nya.
Pemahaman ini sangat penting, karena tanpa mengenal identitas dan tujuan hidupnya, seseorang akan merasa hampa, kehilangan arah, serta kehilangan makna dalam kehidupannya.
Baca juga: Relasi Pendidikan Keluarga dan Sekolah [Bagian 4]
Setelah peserta didik menyadari identitas dan tujuan hidupnya, diharapkan ia akan senantiasa berperilaku baik dan berusaha menjauhi perbuatan buruk, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Kesadaran ini tumbuh dari keimanan kepada Allah, bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar setiap perbuatan, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi. Sikap seperti ini disebut ihsan atau murāqabah dalam disiplin ilmu tasawuf. Nabi Saw. bersabda:
الإحْسانُ أنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأنَّكَ تَراهُ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإنَّه يَراكَ
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak (dapat) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Iman kepada Allah dalam konteks ini bukanlah iman yang hanya berkutat pada perdebatan ilmu kalam dan teori-teori abstrak tentang ketuhanan. Iman yang dimaksud adalah iman yang hidup — yaitu iman yang membuahkan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Iman yang demikian akan melahirkan amal-amal saleh, yang menjadi bukti dan wujud keimanan seseorang. Singkatnya, iman yang hidup adalah iman yang menumbuhkan dan mewujudkan ketakwaan kepada Allah.
Peserta didik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tatanan masyarakat. Masyarakat sendiri memiliki tujuan bersama yang hendak dicapai serta senantiasa dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah. Oleh karena itu, setiap individu, termasuk peserta didik, perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut agar dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat.
Setiap peserta didik memiliki bakat dan minat yang berbeda-beda terhadap bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, perbedaan ini tidak seharusnya membuat mereka berjalan sendiri-sendiri. Semua harus saling bekerja sama dan berkontribusi untuk membangun masyarakat serta mencapai tujuan bersama.
Sering kali, minat dan bakat anak tidak sejalan dengan kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh orang tuanya. Dalam hal ini, orang tua mungkin tidak dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Atas dasar pertimbangan tersebut, keberadaan pendidikan sekolah menjadi sangat penting di samping pendidikan keluarga. Sekolah berfungsi untuk mengakomodasi dan mengembangkan minat serta bakat peserta didik, sekaligus melengkapi hal-hal yang tidak dapat diberikan oleh orang tua dalam upaya memenuhi potensi dan kebutuhan belajar anak.
Memasuki dunia sekolah, peserta didik akan menghadapi realitas baru yang mungkin tidak ditemui dalam pendidikan keluarga. Misalnya, ia dapat berinteraksi dengan teman-teman yang berperilaku nakal—sesuatu yang sebelumnya telah diajarkan oleh orang tua untuk dihindari. Pada tahap inilah hasil pendidikan keluarga benar-benar diuji.






